Makalah Kalimat Efektif

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kata merupakan unsur pembentuk kalimat. Kata adalah unsur bebas terkecil yang bermakna. Disebut sebagai unsur bebas terkecil karena kata dapat berdiri sendiri, yakni diucapkan atau dituliskan terpisah dari kata-kata yang lain. Sebagai unsur kalimat yang bermakna, kata digunakan untuk mewadahi dan menyampaikan pesan. Dengan demikian, kata menjadi salah satu unsur pembentuk kalimat yang sangat menentukan tingkat keefektifan kalimat.
Sebuah kata akan mendukung terbentuknya kalimat efektif apabila kata itu memiliki kesanggupan untuk mewadahi gagasan yang akan diungkapkan penutur dengan tepat dan memiliki kesanggupan untuk menimbulkan kembali gagasan itu dengan tepat pula pada benak (pikiran dan atau Perasaan) mitra tutur.
Kemampuan memilih kata merupakan salah satu bagian kemampuan menyusun kalimat efektif. Dalam berbahasa tulis, kemampuan memilih kata merupakan salah satu bagian kemampuan menyusun kalimat dalam menulis.
Kalimat dalam suatu karangan bukan sekedar untaian kata yang berstruktur dan mengandung gagasan atau pesan. Kalimat dalam karangan, dan juga dalam berbicara adalah kalimat yang hidup, kalimat yang dapat berinteraksi dengan pembaca.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apa itu yang dimaksud pemilihan kata?
2. Bagaimana pengembangan kalimat efektif?

C. Tujuan Makalah
Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu:
1. Untuk memenuhi mata kuliah keterampilan menulis.
2. Untuk memahami cara pemilihan kata.
3. Untuk memahami pengembangan kalimat efektif.
D. Manfaat Makalah
Manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini :
1. Diharapkan mahasiswa dapat memilih kata dalam membuat suatu kalimat atau karangan.
2. Diharapkan mahasiswa dapat mengembangkan kata menjadi kalimat yang efektif.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pilihan Kata
Keraf (1983) menyataka bahwa pemilihan dan pendayagunaan kata mengacu pada kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan tang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar. Untuk memahiri diri dalam memilih kata, ada pembiasaan pelatihan yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Penggunaan kata-kata yang bersinonim
Dalam setiap bahasa sangat lazim ditemukan kata-kata yang bersinonim. Untuk itu memahami kategori kata yang bersinonim sangatlah diperlukan agar dapat memilih salah satu anggota sinonim dengan tepat.
a. Sinonim yang salah satu anggotanya bermakna lebih umum, sementara yang lainnya lebih khusus. Ukurannya adalah keluasan kandungan makna: kata yang umum memiliki makna lebih luas daripada anggota sinonim yang lain. Contohnya:
Bermakna Umum Bermakna Khusus
Buku
Pemberian
Bersenang-senang
Bersekolah
Ujian
Guru
Pelajar/siswa Kitab
Sedekah
Berpesta
Berkuliah
Tentamen
Dosen
Mahasiswa
b. Sinonim yang perbedaanya terletak pada intensitas makna. Dalam hal ini, salah satu anggota sinonim bermakna lebih intensif daripada makna kata yang lain. Contohnya:
Lebih Intensif (mendalam) Kurang intensif
Meneliti
Memeriksa
Melihat
Menjenguk
Mengganggu Memeriksa, mempelajari
Melihat
Melirik
Menengok
mengacau
c. Sinonim yang perbedaannya terletak pada makna emotifnya. Dua kata atau lebih memiliki makna yang hampir sama, dan perbedaannya pada tingkat makna emotifnya. Contoh:
Lebih Emotif Kurang Emotif
Bengis
Nyaman
Duka
Ikhlas Kejam
Enak
Sedih, susah
Lega
d. Kata-kata bersinonim yang berbeda dalam penggunaan umum dan teknis. Dalam hal demikian, satu anggota kata yang bersinonim itu berlaku pada penggunaan bahasa dalam ragam komunikasi umum, sedangkan kata yang lain berlaku dalam ragam bahasa teknis. Ragam bahasa teknis adalah ragam bahasa yang digunakan dalam bidang ilmu tertentu. Contoh:
Umum Teknis
Verba
Mutasi
Amputasi
Renovasi Kata kerja
Perpindahan
Potong
Perbaikan
e. Sinonim yang memiliki perbedaan tingkat kebakuannya. Hal yang harus diperhatikan adalah ragam bahasa yang digunakan. Jika ragam bahasa yang digunakan adalah ragam baku, kata-kata yang dipilih juga kata-kata ragam baku. Kebakuan ragam itu antara lain ditandai oleh kosakatanya. Contoh berikut adalah kata baku dan tidak baku berdasarkan pilihan leksikon:
Leksikon Baku Leksikon Tidak Baku
Berkata
Membuat
Hanya
Tetapi
Karena
Beri
Sudah
Tidak
Bagi
Lepas
Suku cadang Bilang
Membikin
Cuma
Tapi
Lantaran
Kasi, kasih
Udah
Nggak, ndak
Buat
Copot
Onderdil

Ada juga kebakuan yang dilihat dari segi bentukan kata, yaitu:
Bentukan Baku Bentukan Tidak baku
Bercerita
Berdagang
Bernyanyi
Berpindah
Membantah
Mendapatkan
Mengapa
Mengelola
Melarang Cerita
Dagang
Nyanyi
Pindah
Mbantah
Dapat
Ngapain
Ngelola
Ngelarang
Dalam penyusunan kalimat yang dihubungkan dengan ragam bahasa, perlu memperhatikan kata-kata baku dan kata-kata tidak baku.
2. Penggunaan kata secara hemat
Penghematan tidak hanya berlaku pada pengelolaan biaya saja. Penghematan juga berlaku pada penggunaan bahasa. Pada penggunaan bahasa, penghematan itu ditandai oleh penggunaan kata.
Ada norma yang dapat digunakan untuk melihat penghematan penggunaan kata, yakni tingkat kemubaziran kata. Semakin tinggi tingkat kemubaziran kata, semakin tinggi pula ketidakhematan kata yang digunakan. Norma itu juga dapat digunakan untuk mengukur kehematan suatu kata dalam kalimat. Contoh:
a. Nilai etis tersebut di atas menjadi pedoman dan dasar pegangan hidup bagi setiap warga Negara Indonesia.
b. Nilai etis tersebut menjadi pedoman hidup bagi setiap warga Negara Indonesia.
Pada kalimat (b) lebih hemat daripada penggunaan kata-kata pada kalimat (a).
3. Penggunaan kata secara konsisten
Pilihan kata terikat pada konsistensi. Kata-kata yang digunakan dalam kalimat memenuhi syarat konsistensi apabila kata-kata digunakan untuk mengungkapkan gagasan secara setia. Pemertahan bahasa hanya dapat dilakukan dengan penggunaan kata secara setia. Kata murid dan siswa bersinonim, tetapi begitu dipilih salah satu, itulah yang digunakan dalam bahasa kalimat-kalimat karangan tersebut.
Contoh:
a. Pelucutan senjata di wilayah Bosnia itu tidak terpenting bagi muslim Bosnia. Bagi mereka, yang terpenting adalah pencabutan embargo persenjataan.
b. Pelucutan senjata di wilayah Bosnia itu tidak penting bagi muslim Bosnia. Untuk mereka, yang terpenting adalah pencabutan embargo persenjataan.
Kata-kata bercetak tebal pada contoh (a) menunjukkan konsistensi, sedangkan kata-kata pada contoh (b) menunjukkan inkonsistensi. Konsistensi penggunaan kata tidak hanya dihubungkan dengan gagasan diungkapkan dengan kata itu, tetapi juga duhubungkan dengan kata lain yang sudah digunakan. Dengan demikian, jika ada modifikasi bentuk dan makna, modifikasi itu juga tidak dapat dilepaskan dari kata lain yang berhubungan itu.
Pemertahan kata dalam penggunaan demi konsistensi itu sangat ketat pada penggunaan istilah. Dalam ragam bahasa teknis terdapat kemungkinan kata-kata istilah teknis yang bersinonim. Jadi dalam penggunaannya memilih salah satu saja secara konsisten.

B. Pengembangan Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran pembaca atau penulis.
1. Persyaratan kalimat efektif
Kalimat efektif dapat diwujudkan dengan memperhatikan persyaratan yang berlaku. Setidaknya,ada persyaratan yang harus diperhatikan, yakni persyaratan kebenaran struktur (correctness) dan persyaratan kecocokkan konteks (appropriacy), sesuai yang dikemukakan oleh Widdowson (1979) tentang penggunaan bahasa.
a. Persyaratan kebenaran struktur
Kalimat efektif terikat pada kaidah struktur. Dengan keterikatan itu, kalimat efektif dituntut memiliki struktur yang benar. Struktur itu dapat dilihat pada hubungan antarunsur kalimat.
Contoh:
(1) Saya sarankan sudah agar rapat ditunda pelaksanaannya agar anggota semuanya dapat hadir.
(2) Saya sudah sarankan agar rapat ditunda pelaksanaannya agar anggota semuanya dapat hadir.
(3) Sudah saya sarankan agar pelaksanaan rapat ditunda agar semua anggota dapat hadir.
Dalam contoh (1) bukanlah kalimat karena tidak mengikuti kaidah struktur, contoh (2) adalah kalimat yang masih mengandung kesalahan struktur, sedangkan contoh (3) adalah kalimat yang mengikuti kaidah struktur tanpa kesalahan.
Dari uraiantersebut, dapat dilihat bahwa struktur kalimat berada dalam rentangan kebenaran struktur. Ada yang betul-betul tidak berstruktur,ada yang berstruktur tetapi mengandung kesalahan struktur, dan ada yang betul-betul berstruktur benar.
Kalimat yang berstruktur benar adalahkalimat yang unsur-unsurnya memiliki hubungan yang jelas. Dengan hubungan fungsi yang jelas itu, makna yang terkandung di dalamnya juga jelas. Pada tataran frasa, dapat membedakan makna tadi pagi dan pagi tadi, ayah almarhum dan almarhum ayah, usulan dana dan dana usulan berdasarkan hukum D-M. unsur yang di depan pada frasa itu menjadi unsur inti, sedangkan unsur yang di belakang menjadi unsur atribut atau penjelas. Pada tataran kalimat, unsur-unsur yang memiliki fungsi sintaktis seperti subjek, predikat,objek, pelengkap, dan keterangan juga harus jelas.
b. Persyaratan kecocokan
Persyaratan kecocokan adalah persyaratan yang mengatur ketepatan kalimat dalam konteks. Kalimat (1), (2), (3), dan (4) berikut sudah memenuhi persyaratan kebenaran, tetapi hanya pada contoh (1) dan (2) yang memenuhi persyaratan kecocokan.
(1) Belum ada hujan di daerah yang mengalami kekurangan air itu. Gerimis pun tak pernah ada.
(2) Sudah lama tidak hujan. Gerimis pun tak pernah ada.
(3) Kemungkinan akan ada hujan bulan ini. Gerimis pun tak pernah ada.
(4) Pada musim kemarau hanya ada satu atau dua kali hujan. Gerimis pun tak pernah ada.
Kecocokan tidak hanya ditentukan oleh konteks kebahasaan, yakni konteks yang berupa kalimat sebelumnya. Konteks non-kebahasaan juga sangat menentukan kecocockan itu. Berikut kalimat (1), (2), dan (3) memiliki konteks penggunaan yang berbeda. Kalimat itu diungkapkan di depan orang yang hubungannya dengan penutur berbeda-beda.
(1) Silakan minum, Pak!
(2) Minumlah!
(3) Minum!
2. Kiat penyusunan kalimat efektif
a. Kiat pengulangan
Dalam menghasilkan kalimat efektif, kiat itu digunakan untuk memperlihatkan bagian dipentingkan dalam kalimat. Dengan pengulangan itu, bagian kalimat yang diulang menjadi menonjol. Pengulangan itu dapat diperlihatkan dalam sebuah kalimat seperti contoh (1) berikut dan dapat pula dalam untaian kalimat seperti contoh (2) atau (3).
(1) Untuk menguasai kamahiran menulis diperlukan latihan, latihan, dan sekali lagi latihan.
(2) Anda berdarah seniman. Anda punya bakat seni. Anda akan menjadi seniman jika mau.
(3) Rhonald sangat aman. Teknologi micorgrain Rhonald memberikan perlindungan maksimum bagi lambung. Sedemikian aman hingga kita perlu Rhonald Rhonald dapat diminum setiap saat.
Pengulangan tidak harus dengan bentuk yang sama. Pengulangan dapat dilakukan dengan bentuk-bentuk yang berbeda.
b. Pengedepanan
Daam penyampaian informai, pengedepanan itu lazim untuk menunjukkan bahwa hal yang dikedepankan itu penting. Contoh:
”Konidin melenyapkan batuk dengan melegakan tenggorokan Anda. Konidin, tablet batuk dengan formulasi khusus dari Konimex untuk meredakan batuk dengan cepat. Konidin telah terbukti kemanjurannya”.

c. Penyejajaran
Penyejajaran itu menimbulkan kesan bahwa unsur yang disejajarkan itu penting. Hal itu dapat dipahami karena unsure yang disejajarkan itu tampak menonjol, seperti yang terlihat pada contoh berikut:
“yang dilakukannya selama ini di kampong adalah mengurus harta pusaka, mengerjakan sawah, menjenguk sanak family, dan membersihkan kuburan nenek”.
Penyejajaran dapat pula dilakukan dalam untaian kalimat, seperti contoh berikut:
“mengarang bukanlah pekerjaan ynag sukar, yang membuat anda susah dan tersiksa. Mengarang bukanlah momok, yang membuat orang harus ketakutan. Mengarang adalah pekerjaan yang menarik, yang membuat orang bahagia”.
Prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyejajaran adalah konsistensi, yang dapat dipilih atas konsistensi kategori dan konsistensi struktur. Konsistensi kategori ditampakkan pada kategori kata. Jika penyejajaran dikenakan pada verba, seperti melirik, anggota selanjutnya juga verba, seperti melihat,memperhatikan, dan melototi.
d. Pengaturan variasi kalimat
Variasi dapat dikenakan pada dua hal, yakni variasi struktur dan variasi jenis. Variasi struktur memiliki kemungkinan struktur aktif-pasif, struktur panjang-pendek. Variasi jenis memiliki kemungkinan jenis kalimat berita, kalimat Tanya, dan kalimat seru. Variasi struktur terlihat pada contoh (1) dan (2), sedangkan variasi jenis terlihat pada contoh (3) dan (4) berikut:
(1) Subroto dating ke rumah Cepluk. Di sanalah dia bertemu Cepluk yang pertama kali.
(2) Kemarin saya meminjam buku dari perpustakaan. Buku itu say abaca tadi malam dan sekarang akan saya kembalikan.
(3) Anda harus mau dan berani menghadapi berbagai usaha penyelewengan. Jangan ragu-ragu! Jangan takut-takut! Mengapa? Anda semua adalah tunas-tunas pemimpin bangsa yang terandalkan.
(4) Persebaya akan bermain di Ujung Pandang. Kemenangan harus dipetik dari pertandingan itu, sekalipun dengan resiko berbahaya.
Unsur-unsur kalimat efektif, sebagai berikut:
1. Kesepadanan
Yaitu keseimbangan antara gagasan dan struktur bahasa yang dipakai. Ciri-ciri kalimat kesepadanan yaitu:
a. Mempunyai subjek dan predikat yang jelas
Contoh:
Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang SPP. (salah)
Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang SPP. (benar)
b. Tidak terdapat subjek ganda
Contoh:
Soal itu saya kurang jelas. (kurang tepat)
Soal itu bagi saya kurang jelas. (benar)
c. Kata penghubung intra kalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal
Contoh:
Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama. (salah)
Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama. (benar)
d. Predikat kalimat tidak didahului kata yang
Contoh:
Sekolah kami yang terletak di depan bioskop 21. (salah)
Sekolah kami terletak di depan bioskop 21. (benar)
2. Keparalelan
Yaitu kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu.
Contoh:
Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes. (tidak paralel)
Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara luwes. (paralel)
3. Ketegasan
Yaitu suatu penonjolan pad aide pokok kalimat. Berbagai cara untuk membentuk penekanan pada kalimat:
a. Meletakkan kata yang ditonjolkan di depan kalimat
Contoh: Harapan presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya.
b. Membuat urutan kata yang bertahap
Contoh: Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
c. Melakukan pengulangan
Contoh: Saya suka akan kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka.
d. Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan
Contoh: Anak itu tidak malas dan curang, tetapi dia rajin dan jujur.
e. Mempergunakan partikel tekanan
Contoh: Saudaralah yang bertanggung jawab.
4. Kehematan
Yaitu hemat dalam menggunakan kata, phrase, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Ciri-ciri yang perlu diperhatikan:
a. Menghilangkan pengulangan subjek
Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
Seharusnya:
Karena tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
b. Menghindarkan penggunaan superordinat pada hiponim kata
Ia memakai baju warna merah. Bandingkan dengan: Ia memakai baju merah.
c. Menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
Sejak dari pagi dia termenung. Bandingkan dengan: Sejak pagi dia termenung.
d. Menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak
Para tamu-tamu (tidak baku)
Para tamu (baku)
5. Kecermatan
Yaitu tidak menimbulkan tafsiran ganda.
Contoh:
Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah.
Kalimat tersebut memiliki makna ganda, yaitu
Siapa yang terkenal, mahasiswa atau perguruan tinggi.
6. Kepaduan
Kepaduan pernyataan dalam kalimat sehingga informasi yang disampaikan tidak terpecah-pecah. Hal-hal yang perlu diperhatikan:
a. Hindari kalimat panjang dan bertele-tele
Kita harus mengembalikan kepribadian kita orang-orang kota yang terlanjur meninggalkan rasa kemanusiaan itu.
b. Gunakan kalimat secara tertib
Surat itu saya sudah baca. Bandingkan dengan: Surat itu sudah saya baca.
c. Jangan menyisipkan kata: daripada atau tentang
Mereka membicarakan daripada tentang rakyat.
7. Kelogisan
Yaitu dapat diterima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku.
Untuk mempersingkat waktu, kita teruskan acara ini.
Bandingkan dengan:
Untuk menghemat waktu, kita teruskan acara ini.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Keraf (1983) menyataka bahwa pemilihan dan pendayagunaan kata mengacu pada kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan tang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar.
Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran pembaca atau penulis.
Kalimat efektif dapat diwujudkan dengan memperhatikan persyaratan yang berlaku. Setidaknya,ada persyaratan yang harus diperhatikan, yakni persyaratan kebenaran struktur (correctness) dan persyaratan kecocokkan konteks (appropriacy).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s