Makalah Pembelajaran Terpadu Model Fragmented dan Connected

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembelajaran terpadu merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Dengan adanya pemaduan itu siswa akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa. Bermakna disini memberikan arti bahwa pada pembelajaran terpadu siswa akan dapat memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan nyata yang mengubungkan antar konsep dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Jika dibandingkan dalam konsep konvensional, maka pembelajaran terpadu tampak lebih menekankan keterlibatan siswa dalam belajar, sehingga siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran untuk pembuatan keputusan. Setiap siswa memerlukan bekal pengetahuan dan kecakapan agar dapat hidup di masyarakat dan bakal ini diharapkan diperoleh melalui pengalaman belajar di sekolah. Oleh karena itu pengalaman belajar di sekolah sedapat mungkin memberikan bekal siswa dalam mencapai kecakapan untuk berkarya. Kecakapan ini disebut kecakapan hidup yang cakupannya lebih luas hanya sebanding dengan keterampilan.
Ditinjau dari cara memadukan konsep, keterampilan, topik, dan unit tematisnya, menurut Robin Fogarty (1991) terdapat sepuluh cara atau model dalam merencanakan pembelajaran terpadu. Kesepuluh cara atau model tersebut adalah: (1) fragmented, (2) connected, (3) nested, (4) sequenced, (5) shared, (6) webbed, (7) threaded, (8) integrated, (9) immersed, dan (10) networked. Dalam bab ini akan dibahas mengenai pembelajaran terpadu model connected yang merupakan pembelajaran yang menghubungkan satu konsep dengan konsep lain, satu topik dengan topik lain, satu keterampilan dengan keterampilan lain, tugas dilakukan pada satu hari dengan tugas yang dilakukan pada hari berikutnya, bahkan ide-ide yang dipelajari pada satu semester dengan ide-ide yang dipelajari pada semester berikutnya dalam satu bidang studi.
Disamping model connected juga Model fragmented adalah penyusunan kurikulum tradisional berdasarkan ilmu – ilmu yang berbeda dan terpisah. Dalam kurikulum standar, mata pelajaran diajarkan secara terpisah, dengan tidak ada usaha untuk menghubungkan atau mengintegrasikannya. Setiap mata pelajaran dipandang sebagai satu kesatuan yang murni, baik dalam kelompok disiplin ilmunya maupun pada disiplin ilmunya sendiri. Pembelajaran yang dilaksanakan secara terpisah yaitu hanya terfokus pada satu disiplin mata pelajaran.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat diambil suatu rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan Model Fragmented (Model Penggalan)?
2. Apa yang dimaksud dengan Model Connected (Model Keterhubungan)?
3. Bagaimana langkah-langkah model Fragmanted dan model Connected?
4. Apa saja aplikasi model Fragmented dan model Connected?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuannya adalah:
1. Untuk mengetahui pembelajaran Metode Fragmented.
2. Untuk mengetahui pembelajaran Metode Connected.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Model Fragmented (Model Penggalan)
1. Pengertian Model Penggalan (Fragmented) adalah model pembelajaran konvensional (umumnya) yang terpisah secara mata pelajaran. Hal ini dipelajari siswa tanpa menghubungkan kebermaknaan dan keterkaitan antara satu pelajaran dengan pelajaran lainnya. Setiap mata pelajaran diajarkan oleh guru yang berbeda dan mungkin pula ruang yang berbeda. Setiap mata pelajaran memiliki ranahnya tersendiri dan tidak ada usaha untuk mempersatukannya. Setiap mata pelajaran berlangsung terpisah dengan pengorganisasian dan cara mengajar yang berbeda dari setiap guru.
Contoh: dalam satu pelajaran, terdapat materi perambatan cahaya (content), prediksi (thinking skill), dan peta konsep (organizing skill). Yang merupakan pemaduan berbagai bentuk penguasaan konsep ketrampilan berpikir, dan ketramplan mengorganisir.
2. Kelemahan model ini :
a. siswa tidak dapat mengintegrasikan konsep-konsep yang sama, keterampilan serta sikap yang ada kaitannya satu dengan yang lainnya.
a. Materi pelajaran merupakan bentuk yang murni dari setiap ilmu
b. Menyediakan guru yang ahli dibidangnya serta dapat mengembangkan ilmunya secara luas
c. Siswa mempunyai kebebasan untuk memilih topik
3. Keunggulan model ini antara lain :
a. guru dapat menyiapkan bahan ajar sesuai dengan bidang keahliannya dan dengan mudah menentukan ruang lingkup bahasan yang diprioritaskan dalam setiap pengajaran.
b. Kurikulum model ini memisahkan setiap mata pelajaran yang lain sehingga siswa tidak mampu mengintegrasikan sebagian konsep, sikap, keahlian yang ada antar disiplin ilmu
c. Tidak adanya pengintegrasian antar disiplin ilmu akan menyebabkan pelimpahan dan penimbunanmateri pada siswa
d. Tidak efisien

B. Model connected (Model Keterhubungan)
1. Pengertian model conneted
Model Keterhubungan ini lahir dari adanya gagasan bahwa sebenarnya dalam setiap mata pelajaran berisi konten yang berkaitan antara topik dengan topik, konsep dengan konsep dapat dikaitkan secara eksplisit. Satu mata pelajaran dapat memfokuskan sub-sub yang saling berkaitan.
Pembelajaran terpadu model keterhubungan (connected model) menurut Fogarty adalah keterkaitan dalam seluruh bidang, keterkaitan antar topik, keterkaitan antar konsep, keterkaitan antar keterampilan, mengaitkan tugas pada hari ini dengan selanjutnya bahkan ide-ide yang dipelajari pada satu semester dengan ide-ide yang dipelajari pada semester berikutnya dalam satu bidang studi.
Model pembalajaran ini menyajikan hubungan yang eksplisit di dalam suatu mata pelajaran yaitu menghubungkan satu topik dengan topik yang lain, satu konsep ke konsep yang lain, satu keterampilan dengan keterampilan yang lain, satu tugas ke satu tugas yang berikutnya.
Pada pembelajaran model ini kunci utamanya adalah adanya satu usaha sadar untuk menghubungkan bidang kajian dalam satu disiplin ilmu.
Bila kita memandang konsep koneksi ini, rincian dari satu disiplin ilmu terfokus kepada bagian-bagian yang sebenarnya saling berhubungan. Sehingga akan terjadi serangkaian materi satu menjadi prasarat materi berikutnya atau satu materi mendukung materi berikutnya, atau materi satu menjadi prasarat atau berhubungan sehingga apa yang dipelajari menjadikan belajar yang bermakna.
Secara umum proses pembelajaran sebagai suatu sistem dipengaruhi oleh tiga faktor masukan, yaitu raw input, instrumental input, dan environmental input. Demikian halnya dengan pembelajaran terpadu connected, maka sistem itu dapat digunakan. Raw input terdiri dari guru dan siswa, maksudnya kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan sangat dipengaruhi oleh pemahaman dan pengetahuan guru tentang pembelajaran terpadu model connected maupun pengalaman mengajar guru. Selanjutnya kemampuan, sikap, minat dan motivasi merupakan faktor siswa yang akan berpengaruh pada kegiatan pembelajaran.
Instrumental input merupakan acuan dalam pengembangan pembelajaran terpadu model connected, berdasarkan pada undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan menteri (Kurikulum, SKL, dan SKKD) maka guru mengembangkan model pembelajaran. Dalam enviromental input, lingkungan yang berpengaruh pada kegiatan pembelajaran adalah ketersediaan sarana prasarana dan dukungan dari masyarakat baik moral maupun material.
Contoh:
– Guru menghubungkan/menggabungkan konsep matematika tentang uang dengan konsep jual beli, untung rugi, simpan pinjam, dan bunga.
– guru menghubungkan konsep pecahan dengan desimal, dan pecahan dengan uang, tingkatan, pembagian, rasio, dan sebagainya.
2. Kelebihan Model Keterhubungan (Connected)
Keunggulan dari model pembelajaran ini adalah peserta didik memperoleh gambaran secara menyeluruh tentang suatu konsep sehingga transfer pengetahuan akan sangat mudah karena konsep-konsep pokok dikembangkan terus-menerus.
Beberapa kelebihan dari model terhubung (connected) adalah sebagai berikut :
a. Dampak positif dari mengaitkan ide-ide dalam satu bidang studi adalah peserta didik memperoleh gambaran yang luas sebagaimana suatu bidang studi yang terfokus pada suatu aspek tertentu.
b. Peserta didik dapat mengembangkan konsep-konsep kunci secara terus menerus, sehingga terjadilah proses internalisasi.
c. Menghubungkan ide-ide dalam suatu bidang studi sangat memungkinkan bagi peserta didik untuk mengkaji, mengkonseptualisasi, memperbaiki, serta mengasimilasi ide-ide secara terus menerus sehingga memudahkan untuk terjadinya proses transfer ide-ide dalam memecahkan masalah.
d. Adanya hubungan antar ide-ide dalam satu mata pelajaran, anak akan memperoleh gambaran yang lebih jelas dan luas dari konsep yang dijelaskan dan peserta didik diberi kesempatan untuk melakukan pedalaman, tinjauan, memperbaiki dan mengasimilasi gagasan secara bertahap.
Hadisubroto, dalam Trianto mengemukakan keunggulan dan kelemahan model keterhubungan (connected). Keunggulan dari model ini adalah :
a. Dengan adanya hubungan atau kaitan antara gagasan di dalam satu bidang studi, peserta didik-peserta didik mempunyai gambaran yang lebih komprehensif dari beberapa aspek tertentu mereka pelajari secara lebih mendalam
b. Konsep-konsep kunci dikembangkan dengan waktu yang cukup sehingga lebih dapat dicerna oleh peserta didik
c. Kaitan-kaitan dengan sejumlah sasaran di dalam satu bidang studi memungkinkan peserta didik untuk dapat mengkonseptualisasi kembali dan megasimilasi gagasan secara bertahap
d. Pembelajaran terpadu model keterhubungan tidak mengganggu kurikulum yang seang berlaku.
3. Kekurangan Model Keterhubungan (Connected)
Di samping mempunyai kelebihan, model terhubung ini juga mempunyai kekurangan sebagai berikut :
a. Masih kelihatan terpisahnya antar bidang studi, walaupun hubungan dibuat secara eksplisit antara mata pelajaran (interdisiplin). (Hadisubroto, dalam Trianto)
b. Tidak mendorong guru untuk bekerja secara tim, sehingga isi dari pelajaran tetap saja terfokus tanpa merentangkan konsep-konsep serta ide-ide antar bidang studi,
c. Memadukan ide-ide dalam satu bidang studi, maka usaha untuk mengembangkan keterhubungan antar bidang studi menjadi terabaikan.
d. Model ini belum memberikan gambaran yang menyeluruh karena belum menggabungkan bidang-bidang pengembangan/mata pelajaran lain.
C. Langkah-Langkah Pembelajaran Terpadu Model Keterhubungan (Connected) dan model Penggalan (fragmeted)
Pada dasarnya langkah-langkah pembelajaran terpadu model keterhubungan mengikuti tahap-tahap pembelajaran yang sudah biasa, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi. Oleh karena itu, sintaks model pembelajaran ini bisa direduksi dari berbagai model pembelajaran. Dengan demikian, sintaks pembelajaran terpadu bersifat fleksibel dan luwes.
Karena dalam pembelajaran terpadu, sintaksnya dapat diakomodasi dari berbagai model pembelajaran.
1. Tahap Perencanaan
a. Memilih kajian materi, standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator yang akan dipadukan
b. Merumuskan Indikator Hasil Belajar
c. Menentukan langkah-langkah pembelajaran
2. Tahap Pelaksanaan
3. Tahap Evaluasi
Sementara itu, menurut Prabowo dalam Trianto, langkah-langkah pembelajaran terpadu model Keterhubungan (connected) dan model penggalan (Fragmented) adalah sebagai berikut:
1. Tahap Perencanaan
a. Menentukan Kompetensi Dasar
b. Menentukan Indikator Menentukan Tujuan Pembelajaran
2. Langkah-Langkah yang ditempuh guru
a. Menyampaikan konsep pendukung yang harus dikuasai peserta didik. (materi prasyarat)
b. Menyampaikan konsep-konsep yang hendak dikuasai peserta didik
c. Menyampaikan keterampilan proses yang dapat dikembangkan.
d. Menyampaikan alat dan bahan yang akan digunakan / dibutuhkan.
e. Menyampaikan pertanyaan kunci.
3. Tahap Pelaksanaan, meliputi
a. Pengelolaan kelas dengan membangi kelas kedalam beberapa kelompok.
b. Kegiatan proses.
c. Kegiatan pencatatan data.
d. Diskusi secara klasikal
4. Tahap Evaluasi, meliputi :
a. Evaluasi Proses, berupa :
• Ketepatan hasil pengamatan
• Ketepatan dalam menyusun alat dan bahan
• Ketepatan peserta didik saat menganalisis data.
b. Evaluasi Produk
• Penguasaan peserta didik terhadap konsep-konsep / materi sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus yang telah ditetapkan.
c. Evaluasi Psikomotor
• Kemampuan penguasaan peserta didik terhadap penggunaan alat ukur.

D. Contoh Aplikasi Model Penggalan dan Model Keterhubungan dalam Pembelajaran di SD
1. Model Penggalan (Model Fragmented)
Adapun aplikasi yang diterapkan seorang guru pada model pembelajaran fragmented antara lain, sebagai berikut:
a. Seorang guru Bahasa akan menugaskan muridnya untuk menonoton berita sebagai pekerjaan rumah. Lalu murid akan lebih mengenal alur dari berita tersebut dan berkonsentrasi dengan baik pada saat mendengarkan berita tersebut.
b. Guru Matematika akan melakukan permulaan pembelajaran dengan teorema-teorema agar murid dapat menguasai suatu bab dengan baik.
c. Guru IPS akan mendaftarkan topik-topik terkini yang terjadi pada masyarakat yang akan membantu siswa dalam penelitiannya.
d. Seorang guru IPA akan menugaskan siswa untuk membaca sistem periodik unsur pada satu minggu agar siswa dapat menggali lebih dalam pada bab ini.

2. Model Keterhubungan (Model Connected)
Implementasi pembelajaran terpadu model Connected dikembangkan dalam bahasa dan sastra Indonesia secara terpadu di Sekolah Dasar. Di dalam pembelajaran bahasa dan sastra secara terpadu, yaitu pembelajaran kemampuan berbahasa yang meliputi aspek mendengarkan, aspek berbicara, aspek membaca dan aspek menulis dipayungkan kepada pembelajaran apresiasi sastra.
a. Aspek mendengarkan: mengidentifikasi unsur cerita rakyat yang didengarnya
b. Aspek berbicara: memerankan tokoh drama dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat
c. Aspek membaca: menyimpulkan isi cerita dalam beberapa kalimat
d. Aspek menulis: menulis dialog sederhana dua atau tiga tokoh dengan memperhatikan isi serta perannya.
Adapun langkah-langkah pembelajaran yang dapat ditempuh
a. siswa mendengarkan cerita dan mengidentifikasi unsur-unsur ceritanya,
b. siswa membaca cerita dan menyimpulkan isi ceritanya,
c. siswa menulis dialog dua atau tiga tokoh cerita sesuai dengan isi ceritanya, kemudian
d. siswa berlatih berbicara dengan memerankan tokoh ceritanya.
Selain itu, penulis juga mengaitkan beberapa kompetensi dasar dari berbagai keterampilan yang terkandung dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Untuk lebih jelasnya, penulis menyajikan sebuah RPP Terpadu yang mengaitkan keterampilan-keterampilan berbahasa. (terlampir)

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pengertian Model Penggalan (Fragmented) adalah model pembelajaran konvensional (umumnya) yang terpisah secara mata pelajaran. Hal ini dipelajari siswa tanpa menghubungkan kebermaknaan dan keterkaitan antara satu pelajaran dengan pelajaran lainnya. Setiap mata pelajaran diajarkan oleh guru yang berbeda dan mungkin pula ruang yang berbeda. Setiap mata pelajaran memiliki ranahnya tersendiri dan tidak ada usaha untuk mempersatukannya.
Kelemahan model ini :
b. siswa tidak dapat mengintegrasikan konsep-konsep yang sama, keterampilan serta sikap yang ada kaitannya satu dengan yang lainnya.
d. Materi pelajaran merupakan bentuk yang murni dari setiap ilmu
c. Menyediakan guru yang ahli dibidangnya serta dapat mengembangkan ilmunya secara luas
Keunggulan model ini antara lain :
a. guru dapat menyiapkan bahan ajar sesuai dengan bidang keahliannya dan dengan mudah menentukan ruang lingkup bahasan yang diprioritaskan dalam setiap pengajaran.
b. Kurikulum model ini memisahkan setiap mata pelajaran yang lain sehingga siswa tidak mampu mengintegrasikan sebagian konsep, sikap, keahlian yang ada antar disiplin ilmu
2. Pembelajaran terpadu model keterhubungan (connected model) menurut Fogarty adalah keterkaitan dalam seluruh bidang, keterkaitan antar topik, keterkaitan antar konsep, keterkaitan antar keterampilan, mengaitkan tugas pada hari ini dengan selanjutnya bahkan ide-ide yang dipelajari pada satu semester dengan ide-ide yang dipelajari pada semester berikutnya dalam satu bidang studi.
Beberapa kelebihan dari model terhubung (connected) adalah sebagai berikut :
a. Dampak positif dari mengaitkan ide-ide dalam satu bidang studi adalah peserta didik memperoleh gambaran yang luas sebagaimana suatu bidang studi yang terfokus pada suatu aspek tertentu.
b. Peserta didik dapat mengembangkan konsep-konsep kunci secara terus
menerus, sehingga terjadilah proses internalisasi.
3. Langkah-langkah Pembelajaran Terpadu Model Fragmented dan Model Connected
Karena dalam pembelajaran terpadu, sintaksnya dapat diakomodasi dari berbagai model pembelajaran.
a. Tahap Perencanaan
1) Memilih kajian materi, standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator yang akan dipadukan
2) Merumuskan Indikator Hasil Belajar
3) Menentukan langkah-langkah pembelajaran
b. Tahap Pelaksanaan
c. Tahap Evaluasi
4. Contoh Aplikasi Model Penggalan dan Model Keterhubungan dalam Pembelajaran di SD
a. Model Penggalan (Model Fragmented)
Adapun aplikasi yang diterapkan seorang guru pada model pembelajaran fragmented antara lain, sebagai berikut:
1) Seorang guru Bahasa akan menugaskan muridnya untuk menonoton berita sebagai pekerjaan rumah. Lalu murid akan lebih mengenal alur dari berita tersebut dan berkonsentrasi dengan baik pada saat mendengarkan berita tersebut.
2) Guru Matematika akan melakukan permulaan pembelajaran dengan teorema-teorema agar murid dapat menguasai suatu bab dengan baik.
b. Model Terhubung (connecetd)
pembelajaran kemampuan berbahasa yang meliputi aspek mendengarkan, aspek berbicara, aspek membaca dan aspek menulis dipayungkan kepada pembelajaran apresiasi sastra.
1) Aspek mendengarkan: mengidentifikasi unsur cerita rakyat yang didengarnya
2) Aspek berbicara: memerankan tokoh drama dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat
3) Aspek membaca: menyimpulkan isi cerita dalam beberapa kalimat
4) Aspek menulis: menulis dialog sederhana dua atau tiga tokoh dengan memperhatikan isi serta perannya.

B. Saran
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penyusun dan bagi khalayak yang membacanya. Penyusun tahu bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna, sehingga penyusun mengharapkan saran dan kritik dari pembaca, agar penyusun dapat menyempurnakannya.

DAFTAR PUSTAKA

Bintang. Kecil. 2012. Model Connected (Pembelajaran Terpadu).
Online Tersedia : http://bintangkecildelapan.blogspot.com/2012/03/v-behaviorurldefaultvmlo.html
[6 Oktober 2012]

Endah. Resnandari. 2011. Pembelajaran Model Connected (hubungan/terkait).
Online Tersedia : http://endahresnandari.blogspot.com/2011/06/pembelajaran-terpadu-model-connected.html
[6 Oktober 2012]

Ahmad. Nurdin. 2011. Model pPembelajaran Tipe Fragmented. Online Tersedia :
http://www.ahmatnurdin.com/model-pembelajaran-terpadu-tipe-fragmanted-terpisah.html
[6 Oktober 2012]

Nurul. Ayni, 2008. Model Pembelajaran Terpadu. Online Tersedia :
http://nurul071644249.wordpress.com/model-pembelajaran-terpadu/
[6 Oktober 2012]

Tisno, Hadi Subroto dan ida Siti Herawati. 2004. Pembelajaran Terpadu. Jakarta : Universitas Tebuka

Makalah Lingkungan Sebagai Sumber Belajar

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dunia pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan lingkungan. Lingkungan adalah sumber belajar yang vital. Pembelajaran yang menjadikan lingkungan sebagai objek belajar dapat memberikan pengalaman nyata dan langsung kepada peserta didik. Seorang guru harus mampu membuat siswa belajar mandiri.
Secara tradisional, sumber belajar adalah guru dan buku paket. Padahal sumber belajar yang ada disekitar sekolah, di rumah, di masyarakat sangatlah banyak. Hanya saja kita belum dapat memanfaatkan sumber belajar yang berlimpah tersebut.
Dalam pembelajaran terutama pembelajaran kelas rangkap, kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sebagai salah satu sumber belajar sangatlah penting. Diantara sumber belajar yang dapat dimanfaatkan adalah teman sesama guru di sekolah sendiri maupun sekolah lain, masyarakat, keluarga, lingkungan sekolah dan rumah sekolah. Oleh karenanya, seorang guru dituntut mampu mengenal dan memanfaatkan sumber belajar yang tersedia disekitar siswa dan untuk mencapai hasil pembelajaran yang optimal terutama pada pembelajaran kelas rangkap, sebagai guru kita perlu mengadakan kerjasama dengan berbagai pihak.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat diambil suatu rumusan masalah sebagai berikut:
1. Mengapa sekolah dan sejawat guru dianggap sebagai sumber belajar?
2. Mengapa sekolah dan lingkungan dianggapsebagai sumber belajar?
3. Mengapa lingkungan termasuk dianggap sebagai sumber belajar?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuannya adalah:
1. Untuk mengetahui sekolah dan sejawat guru sebagai sumber belajar.
2. Untuk mengetahui sekolah dan lingkngan sebagai sumber belajar.
3. Untuk mengetahui lingkungan sebagai sumber belajar.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sekolah dan Sejawat Guru sebagai Sumber Belajar
1. Kerjasama
Dalam Pembelajarn Kelas Rangkap (PKR), kemitraan antara guru di dalam lingkungan sekolah yang sama maupun sekolah yang berbeda sangatlah penting. Di sekolah-sekolah di daerah terpencil dimana terdapat berbagai kesulitan dan keterbatasan maka menciptakan sumber belajar dan sumber daya merupakan faktor penting.
Winataputra (1999) menyebutkan bahwa melalui pembiasaan kerjasama antar guru sekolah dapat dicapai hal-hal sebagai berikut:
a. Program pembelajaran dapat dilakukan lebih efisien dan efektif dalam arti hemat sumber daya dan mencapai tujuan secara optimal.
b. Terciptanya suasana kebersamaan dan kesejawatan antar guru dalam membangun dan memelihara suasana pendidikan persekolahan yang demokratis.
c. Kebersamaan dan kesejawatan antar guru akan menjadi model bagi para siswa dalam membina persahabatan antar siswa karena mereka akan merasakan sesuai dengan nilai dan semangat “ing ngarso sung tolodo”.
d. Pemecahan masalah-masalah pendidikan di SD akan menjadi semakin mudah dan ringan karena semua guru dan kepala sekolah menerapkan prinsip “berat sama dipikul ringan sama dijinjing”.
Kerjasama dilakukaan untuk saling membantu, saling mengisi dan saling mengatasi kesulitan. Salah satu tujuan sekolah dalam mengelola dan mengorganisasikan kegiatanya adalah untuk membangun kerjasama dan saling pengertian yang kokoh baik di dalam sekolah itu sendiri, maupun dengan sekolah lain, tujuan pembelajaran khusus yang dirumuskan dimuka adalah suatu cita-cita keberhasilan yang harus dicapai melalui kerjasama sekolah, kerjasama merupakan usaha untuk meningkatkan dan memperluas sumber belajar.
Menciptakan sumber belajar, dan sumber daya merupakan faktor penting bagi sekolah-sekolah di daerah terpencil yang menghadapi berbagai kesulitan dan keterbatasan, oleh karena itu, kerjasama tersebut diarahkan kepada :
a. Kerjasama antara guru dan kepala sekolah terpusat pada pembagian tugas mengajar dan kerja administrasi, misalnya :
1) Mengatur pembagian tugas mengajar, kerja administrasi dan jadwal pelajaran
2) Pengadaan, penggunaan, dan pemeliharaan alat dan sumber belajar
3) Berdiskusi dan saling tukar informasi
b. Kerjasama sekolah diarahkan untuk membangun Pusat Sumber Belajar (PSB). PSB ini dapat dibangun dari mulai yang sederhana sampai dengan yang lebih tinggi. Yang sederhana misalnya satgu kegiatan atau forum dimana guru bisa saling mengunjungi, atau saling bertemu untuk mengdiskusikan berbagai masalah, atau yukar informasi dan pengalaman sebagai contoh antara lain adanya rapat rutin, dan forum diskusi, sedangkan PBS dalam pengertian yang lebih tinggi misalnya adanya kerjasama untuk menciptakan dan menggunakan sumber belajar, alat dan bahan yang dapat dipakai bersama.
c. Kerjasama dengan orang tua dan masyarakat diarahkan untuk menciptakan iklim dimana sekolah adalah milik bersama, oleh karenanya penyelenggaraan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah dan masyarakat. Guru dan sekolah sekolah harus mendekati masyarakat untuk mendapatkan bantuan berupa sumber daya, sumber dana, dan sumber gagasan yang ada dalam masyarakat.

2. Membangun Iklim Kerjasama
Dalam merencanakan kerjasama, langkah yang perlu kita lakukan adalah mengetahui dan mendaftar potensi yang mungkin dapat digerakan untuk kepentingan pendidikan. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat digunakan untuk membangun kerjasama dengan pihak lain yang terkait :

a. Mengumpulkan Data Statistik dan Sumber Informasi
Data sekolah yang meliputi jumlah murid, jumlah murid mengulang kelas, jumlah murid putus sekolah, dan jumlah murid yang melanjutkan ke SMP. Selain itu, kita juga perlu mengetahui tentang jumlah data penduduk desa, umur, jenis kelamin, anak usia sekolah, tingkat pendidikan pendudukan, tokoh-tokoh masyarakat dan keahliannya, kita juga perlu mendata sumber alam, tempat wisata, dan sumber yang berpotensi sebagai sumber belajar misalnya danau, kawah, gunung, sungai, laut, tempat bersejarah (situs) dan sebagainya.
b. Melakukan Negosiasi (perundingan)
Guru dan kepala sekolah perlu mengatur langkah-langkah untuk melakukan negosiasi agar mendapatkan dukungan.dalam melakukan negosiasi itu tumbuhkan kesan bahwa mereka bukan hanya membantu kita, tetapi mereka merupakan unsur penting, tanpa kehadiran mereka maka sekolah tidak akan berjalan dengan baik. Apabila sekolah tidak berjalan dengan semestinya maka yang rugi tidak hanya sekolah tetapi juga masyarakat. Tokoh masyarakat perlu mengetahui apa yang terjadi di sekolah sehingga mereka memaklumi hasil yang dicapai oleh sekolah. Sebagai contoh, apabila NEM di SD anda sangat rendah, maka masyarakat sekitar tidak akan menyalahkan anda semata, karena mereka tahu sekolah anda tidak ada buku dan anda mengajar sendiri untuk beberapa kelas.

c. Memberikan Peranana Nyata
Masyarakat perlu diberikan peranan nyata, misalnya menjadi tutor dan narasumber diberbagai bidang antara lain : kesenian, olahraga, kesehatan, kerajinan, pertanian. Dengan memberi peran seperti itu mereka akan menyadiri bahwa tugas guru tidak mulia. Cara lain adalah mengaktifkankan peran BP3, sebagai mitra kerja sekolah.
d. Melaporkan Keadaan Sekolah
Pada saat-saat tertentu guru atau sekolah dapat memberikan laporan kepada kepala desa atau masyarakat tentang keadaan sekolahnya. Ini bisa saja dilakukan enam bulan sekali kita berkunjung ke kantor desa dan melaporkan tentang prestasi yang dicapai oleh murid-murid. Atau pada saat kenaikan kelas, para orang tua diundang untuk menghadiri kenaikan kelas putra-putrinya.
e. Memberikan Tanda Penghargaan
Sekolah dapat memberikan penghargaan terhadap masyarakat yang berjasa terhadap sekolah, penghargaan seperti ini dapat berbentuk piagam atau piala, atau lebih sederhana lagi misalnya mengumumkan kepada masyarakat ketika rapat sekolah, kenaikan kelas atau pada saat rapat desa.

3. Melakukan Kerja Sama dengan Sekolah dan Rekan Sejawat Guru
Guru mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kerjasama ini dimaksudkan untuk saling memanfaatkan kelebihan dan saling mengatasi kekurangan.
Sebagai calon guru tentu memahami betul kondisi dan keadaan sekolah anda yang menurut anda sendiri serba kekurangan. Fenomena ini sangat mempangaruhi anda sehingga menggangu proses belajar mengajar.
Keserbakekurangan tersebut antara lain: Disekolah kekurangan tenaga guru sehingga harus mengjar merangkap beberapa kelas sekaligus, siswa tidak memiliki buku sumber, dan tidak memiliki buku pedoman guru secara lengkap.
a. Cara memanfaatkan sesama guru dari sekolah sebagai sumber belajar.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan guru adalah seperti berikut:
1) Kemukakan masalah yang anda hadapi misalnya dalam mata pelajaran matematika.
2) Menentukan alternatif pemecahan permasalahan berupa :
a) Membahas bersama materi tersebut
b) Meminjam buku sumber, bahan dan alat peraga
c) Meminta teman anda menggantikan mengajar, sementara anda mengajar dikelas teman anda
d) Membawsa murid anda untuk belajar matematika di kelas teman anda.
b. Memilih alterntif yang paling tepat dengan mempertimbangkan kebutuhan, jadwal, dan bahan yang tersedia
Kerjasama ini adalah untuk saling membantu, saling mengisi dan saling mengatasi kesulitan. Cara untuk mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut dapat bervariasi, tergantung kepada permasalahan yang dihadapi.
Langkah-langkah diatas menunjukan bahwa kesulitan apapun dapat diatasi asal ada keterbukaan dan saling pengertian antara sesama guru.
Jadi kerjasama antara sesama guru dalam satu sekolah itu sangat penting karena dapat memecahkan berbagai kesulitan terutama kesulitan dalam melaksanakan tugas mengajar.
Disini dituntu untuk menyadari bahwa setiap orang mempunyai kekurangan, dan kekurangan tersebut dapat diatasi apabila kita bekerjasama.

B. Sekolah dan Lingkungan sebagai Sumber Belajar
Pada pembelajaran dengan pendekatan PKR seorang guru harus mampu menciptakan kondisi sekolah ataupun ruang kelas yang mendukung proses pembelajaran termasuk belajar mandiri. Kondisi yang dimaksud adalah melengkapi pembelajaran dengan perlengkapan dan sumber belajar yang memadai.
1. Menciptakan Lingkungan sebagai Sumber Belajar
a. Melengkapi Ruang Kelas dengan berbagai Sumber Belajar
Ruang kelas merupakan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar, tempat sebagian besar kegiatan pembelajaran berlangsung. Menciptakan ruang kelas yang menyenangkan akan membantu berlangsungnya proses pembelajaran. Untuk membuat siswa lebih produktif dalam belajar seorang guru harus dapat menciptakan lingkungan belajar dengan berbagai perlengkapan belajar.
Adanya sudut baca di ruang kelas dengan berbagai jenis buku sangat diperlukan terutama pada pembelajaran dengan menggunakan model PKR dimana guru harus membelajarkan lebih dari satu kelas dalam waktu yang bersamaan. Sudut baca dapat berisi kumpulan laporan kegiatan siswa, benda-benda lingkungan, pajangan kelas yang berkaitan dengan isi buku-buku yang berkaitan dengan buku pelajaran, buku cerita, komik, kliping maupun laporan tugas, dan hasil kerja siswa dalam melakukan kegiatan praktikum serta benda-benda yang merupakan hasil karya siswa.
b. Melengkapi Lingkungan Sekolah dengan berbagai Sumber Belajar
Suatu sekolah dengan jumlah guru yang terbatas, sangat membutuhkan kreatifitas dalam menciptakan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar. Halaman sekolah dapat dijadikan sumber belajar, berbagai tanaman dapat ditanam di sana, selain memperindah suasana sekolah, siswa dapat belajar berbagai hal seperti mengetahui bagian-bagian tanaman dan ekosistim. Halaman belakang sekolah dapat dibuat kebun sekolah. Di kebun sekolah siswa dapat mempelajari sistem reproduksi pada tumbuhan, barbagai macam tumbuhan dengan lingkungan hidupnya, cara bercocok tanam dan mempraktekkannya secara langsung. Belajar melalui pengalaman nyata akan memberikan hasil belajar yang lebih baik.
Koperasi yang dibangun di sekolah dapat berfungsi sebagai sumber belajar, selain dapat membantu anggota-anggotanya yang merupakan orang-orang yang berada di lingkungan sekolah, dapat juga digunakan sebagai sumber belajar, di koperasi siswa dapat belajar menghitung keuntungan dari penjualan, sistem kredit, manfaat koperasi dan sekaligus mempraktekkannya karena siswa merupakan anggota koperasi juga.
Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) yang dibentuk di sekolah dapat menjadi sumber belajar dimana siswa dapat melihat langsung bagaimana cara menangani berbagai masalah kesehatan secara sederhana.
Menurut (Djalil, 2005) ada 2 (dua) cara untuk meningkatkan pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar yang dapat meningkatkan kualitas belajar siswa:
1) Menciptakan lingkungan di sekolah yang memudahkan murid-murid untuk belajar mandiri, yang dapat dilakukan dengan melengkapi sekolah atau ruang kelas dengan berbagai sumber belajar
2) memanfaatkan sumber belajar yang ada secara maksimal untuk menunjang belajar mandiri

C. Lingkungan sebagai Sumber Belajar
1. Memanfaatkan Pusat Sumber Belajar
Dalam memanfaatkan Pusat Sumber Belajar (PSB), Lembar Kerja Murid (LKM) tetap memegang peranan penting. Contoh dalam memanfaatkan PSB, LKM diarahkan untuk kegiatan berikut :
a. Mengembangkan keterampilan atau konsep
1) Kecermatan
Menggunting, merekat, memasangkan, membuat percobaan (mengamati, membuat diagram), dan mengadakan simulasi.
2) Penerapan konsep
Memasukan, mengurutkan, mengumpulkan, memisahkan, mendaftarkan, mengelompokan, memasangkan, menuliskan, menempatkan atau memberi nama, membandingkan, mengembangkan, meneliti, merekontruksi, menemukan dan memutuskan,
b. Menempatkan semua lembar kerja, permainan, diagram, hasil praktikum, laporan, dan hasil karya lainya di suatu tempat dimana murid lain dapat belajar dengan cara belajar mandiri.
c. mengembangkan beberapa bentuk penyimpanan sehingga baik guru maupun murid dapat menghabiskan waktunya untuk belajar di PSB
Lembar Kerja Murid (LKM) merupakan alat yang paling efektif untuk memaksimalkan penggunaan PSB. Berikut ini beberapa contoh kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan dengan menggunakan LKM, antara lain :
a. Murid-murid melakukan praktikum tentang pengaruh sinar matahari terhadap tumbuhan. Contoh :
1) Murid-murid menempatkan tumbuhan dalam kotak yang ditutup rapat. Pada dinding kotak tersebut diberi lubang untuk masuk sinar. Setelah beberapa hari akan diketahui bahwa tumbuhan tersebut menyerap melalui lubang tadi.
2) Murid-murid mengamati 2 buah pot yang sudah ditanami bungan dari jenis yang sama, yang satu ditempatkan di tempat terang dan satunya lagi ditempatkan pada tempat gelap. Setelah satu minggu murid-murid dapat membandingkan pertumbuhan ke dua bunga tersebut.
b. Berbagai potongan bambu yang merupan contoh bentuk lingkaran dari berbagai ukuran. Setiap murid mengukur lingkaran tersebut dengan menggunakan benang. Berdasarkan pengukuran ini, murid di bawah bimbingan guru akan mengetahui rumus penghitungan benda-benda bulat seperti bola.
c. Berbagai tanda rambu-rambu lalu lintas yang dibuat sendiri, ditempatkan berjejer. Murid-murid harus menunjukkan ke mana arah berjalan sesuai dengan rambu tersebut.

2. Lingkungan Sekitar sebagai Sumber Belajar
Salah satu upaya yang diperkirakan dapat meningkatkan minat siswa pada pelajaran adalah dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. Lingkungan sekitar data mencakup lingkungan alam dan pengalaman di lingkungan sekitar siswa sehari-hari. Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar adalah metode dimana guru mengajak siswa belajar di luar kelas untuk melihat peristiwa langsung di lapangan dengan tujuan untuk mengakrabkan siswa dengan lingkungannya. Melalui metode ini, lingkungan diluar sekolah dapat digunakan sebagai sumber belajar. Peran guru adalah sebagai motivator, artinya guru sebagai pemandu agar siswa belajar secara aktif, kreatif dan akrab dengan lingkungan.
Menurut Djalil dkk (2005), ada beberapa hal yang perlu anda pertimbangan dalam menentukan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, yaitu:
a. Sumber tersebut mudah dijangkau (kemudahan)
b. Tidak memerlukan biaya tinggi (kemurahan)
c. Tempat tersebut cukup aman digunakan sebagai sumber belajar (keamanan)
d. Berkaitan dengan materi yang diajarkan di sekolah (kesesuaian)
Melalui metode ini, bentuk tugas yang diberikan disesuaikan dengan kemampuan anak didik pada batas frekuensi yang tetap menggairahkan mereka sehingga tidak menimbulkan kebosanan dan kejenuhan. Tentu saja untuk melakukan kegiatan belajar metode ini diperlukan perencanaan dan persiapan yang baik dengan membuat langkah-langkah pembelajarannya, koordinasi dengan kepala dengan membuat langkah-langkah pembelajarannya, koordinasi dengan kepala sekolah dan pihak-pihak terkait perlu dilakukan pada awal program pembelajaran.
Djalil dkk (2005) membuat beberapa langkah dalam menentukan lingkungan sebagai sumber belajar sebagai berikut:
a. Topik dan materi pembelajaran erat sekali kaitannya dengan lingkungan
b. Lingkungan yang dipilih merupakan salah satu sumber yang paling mungkin dapat digunakan untuk memperkaya materi
c. Sumber tersebut paling sesuai dengan sekolah anda dilihat dari kemudahan, kemurahan, keamanan dan kesesuaian dengan materi.
d. Sumber dari buku dirasakan kurang atau tidak ada contohnya dan sulit diterapkan pada pembelajaran dengan pendekatan PKR.
3. Cara Mengidentifikasi Lingkungan Sebagai Sumber Belajar
Dalam mengidentifikasi lingkungan sebagai sumber belajar, selain guru dituntut menguasai seluk-beluk lingkungan, guru juga dituntut untuk menguasai tentang materi kurikulum, serta materi dan topik-topik pelajaran dalam buku paket yang berkaitan dan membutuhkan alam sekitar sebagai sumber belajar.
Untuk itu, Mengidentifikasi lingkungan dapat menggunakan format sebagai berikut.
Identifikasi Sumber Lingkungan Sesuai Dengan Materi Pelajaran
Sumber Alam Ketersediaan Untuk Mata Pelajaran
Ada Tidak
1 2 3 4
1. Sumber Alam
a. Gunung
b. Sungai
c. Sawah
d. Lembah
e. Hutan
f. Kawah
g. Irigasi
h. Danau/waduk
i. Pertambangan
j. Mata air
2. Sosial
a. Jenis suku bangsa
b. Suku terasing
c. Kehidupan adat
d. Upacara adat
e. Rumah adat
f. Upacara keagamaan
g. Mata pencaharian penduduk
h. Pakaian adat
i. Ragam bahasa
3. Lembaga
a. Kantor Desa
b. Puskesmas
c. Posyandu
d. Tempat ibadah
e. Lembaga adat
f. Lembaga budaya/ sanggar tari
g. Perpustakaan
h. Musium
i. Laboratorium
j. Pabrik/perusahaan
* ) Lihat Kurikulum

Untuk mengetahui ketersediaan tersebut, guru cukup memberikan tanda centang (√) pada kolom 2 bila ada, atau kolom 3 bila tidak ada. Dari beberapa sumber lingkungan yang disebutkan di atas, pasti beberapa diantaranya tersedia sekitar sekolah. Untuk kepentingan murid-murid tidak perlu semua sumber diatas harus ada, tetapi mana saja diantara sumber tersebut yang dapat anda manfaatkan untuk kepentingan belajar.
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, adalah :
a. Sumber tersebut mudah dijangkau ( kemudahan)
b. Tidak memerlukan biaya tinggi ( kemuarahan)
c. Tempat tersebut cukup aman untuk digunakan sebagai sumber belajar (keamanan)
d. Berkaitan dengan materi yang diajarkan di sekolah (kesesuaian)
Pada kolom 4, guru menuliskan materi mata pelajaran yang pembelajarannya membutuhkan sumber belajar tersebut. Untuk menentukan sumber yang akan digunakan, terlebih dahulu guru harus sudah mempersiapkannya melalui perencanaan dan program. Rencana ini didiskusikan dengan guru lain dan Kepala Sekolah.
4. Cara Memanfaatkan Lingkungan sebagai Sumber belajar untuk Kepentingan Belajar Murid-murid
Dalam melakasanakan pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar, ada beberapa langkah yang harus dilakukan, yaitu :
a. Membuka kembali daftar materi, yang tujuannya untuk melihat topik dan materi yang akan diberikan dengan menggunakan berbagai sumber lingkungan.
b. Mempersiapkan kunjungan ke sumber belajar, yaitu :
1) Menentukan jadwal (kapan, dan berapa lama)
2) Menyiapkan lembar kerja murid (LKM), merupakan pedoman atau petunjuk bagi murid dalam melakukan pengamatan, dan pengumpulan data,
3) Mempersiapkan perbekalan, misalnya : alat, bahan dan konsumsi,
c. Memberikan petunjuk tentang tata tertib selama melakukan kunjungan atau pengumpulan data.
d. Melakukan bimbingan dan pembinaan selama dalam kunjungan.
e. Memberikan pengawasan penuh kepada murid-murid baik di perjalanan maupaun di tempat tujuan.
f. Memberikan petunjuk cara membuat laporan hasil kunjungan, dan cara menyampaikannya dalam kelas.
g. Menata kelompok belajar untuk mempresentasikan hasil laporan.
5. Masyarakat sebagai Sumber Belajar
Sekolah bukanlah merupakan bagian terpisa dari masyarakat, tetap merupakan bagian integral dari masyarakat. Dalam pelaksanaan PKR kemitraan antar guru dan antar guru dengan masyarakat, sangatlah penting, lebih-lebih guru yang bertugas di SD yang sumber belajarnya di sekolah sangat terbatas. Sekolah dan guru seharusnya tidak terisolasi atau mengisolasikan diri dari masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu iklim kerjasama perlu dibangun dan dipelihara. Kemitraan atau kerjasama sekolah dan masyarakat disekitar sekolah perlu dirancang dan diprogramkan dengan baik. Dengan demikian segala sumber belajar yang ada di luar sekolah dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dalam pembelajaran.
Masyarakat yang dimaksud dalam hal ini adalah individu sebagai personal yang merupakan bagian dari masyarakat. Misalnya tokoh masyarakat dan para ahli, seperti peran ulama, pengrajin, petani, seniman, pakar, aparat pemerintah, lingkungan hidup dan sebagainya. Mereka dapat bertindak sebagai narasumber untuk informasi tertentu. Sekali waktu seorang polisi dapat diundang ke sekolah untuk memberikan materi-materi tentang tertib berlalulintas, atau seorang keagamaan, atau suatu waktu siswa diajak mengunjungi puskesmas untuk melihat dan mengamati aktivitas di sana. Kunjungan ke pameran karya sastra, museum, cagar alam, kebun binatang dan lingkungan lain sangat membantu siswa dalam belajar mandiri.
Djalil dkk (2005) menjelaskan beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam memanfaatkan nara sumber yaitu:
a. Materi atau informasi yang dapat diperoleh dari nara sumber, tidak dikuasai oleh guru, dan
b. Narasumber tersebut tepat, artinya yang dijadikan narasumber harus orang yang benar-benar memiliki informasi tersebut.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dalam Pembelajarn Kelas Rangkap (PKR), kemitraan antara guru di dalam lingkungan sekolah yang sama maupun sekolah yang berbeda sangatlah penting. Kerjasama dilakukaan untuk saling membantu, saling mengisi dan saling mengatasi kesulitan. Dalam merencanakan kerjasama, langkah yang perlu kita lakukan adalah mengetahui dan mendaftar potensi yang mungkin dapat digerakan untuk kepentingan pendidikan. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat digunakan untuk membangun kerjasama dengan pihak lain yang terkait, mengumpulkan data statistik dan sumber informasi, melakukan negosiasi (perundingan), memberikan peran nyata, melaporkan keadaan sekolah, memberikan tanda penghargaan. Guru mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kerjasama ini dimaksudkan untuk saling memanfaatkan kelebihan dan saling mengatasi kekurangan.
Pada pembelajaran dengan pendekatan PKR seorang guru harus mampu menciptakan kondisi sekolah ataupun ruang kelas yang mendukung proses pembelajaran termasuk belajar mandiri. Kondisi yang dimaksud adalah melengkapi pembelajaran dengan perlengkapan dan sumber belajar yang memadai.
Dalam memanfaatkan Pusat Sumber Belajar (PSB), Lembar Kerja Murid (LKM) tetap memegang peranan penting. LKM diarahkan untuk kegiatan berikut,yaitu mengembangkan keterampilan atau konsep (kecermatan, penerapan konsep), menempatkan semua lembar kerja, hasil karya lainya di suatu tempat dimana murid lain dapat belajar dengan cara belajar mandiri dan mengembangkan beberapa bentuk penyimpanan. Salah satu upaya yang diperkirakan dapat meningkatkan minat siswa pada pelajaran adalah dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar adalah metode dimana guru mengajak siswa belajar di luar kelas untuk melihat peristiwa langsung di lapangan dengan tujuan untuk mengakrabkan siswa dengan lingkungannya. Melalui metode ini, lingkungan diluar sekolah dapat digunakan sebagai sumber belajar. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, adalah sumber tersebut mudah dijangkau (kemudahan), tidak memerlukan biaya tinggi (kemuarahan), tempat tersebut cukup aman untuk digunakan sebagai sumber belajar (keamanan), berkaitan dengan materi yang diajarkan di sekolah (kesesuaian). Sekolah bukanlah merupakan bagian terpisa dari masyarakat, tetap merupakan bagian integral dari masyarakat. Kemitraan atau kerjasama sekolah dan masyarakat disekitar sekolah perlu dirancang dan diprogramkan dengan baik. Dengan demikian segala sumber belajar yang ada di luar sekolah dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dalam pembelajaran.

B. Saran
Dalam beberapa hal kita sering kali tidak mampu untuk memecahkan masalah pembelajaran sendiri, bahkan setelah didiskusikan dengan teman sejawat dalam satu sekolah. Sehingga penulis mempunyai saran bahwa alangkah lebih baiknya jika kita selaku guru menemukan suatu permasalahan dalam suatu pembelajaran yang tidak dapat kita pecahkan itu dengan cara bekerjasama dengan guru lain dengan satu sekolah ataupun dengan lain sekolah. Jadi disini kita dapat berdiskusi dan bertukar pengalaman antar yang satu dengan yang lain untuk mengatasi kesulitan dalam mengajar, misalnya tidak mempunyai buku sumber dan alat peraga, atau kurang menguasai materi yang harus diajarkan. Sehingga disini kita dapat saling membantu dalam mengajar, dari mengeadakan kegiatan bersama seperti membuat media pembelajaran, menyusun skenario pembelajaran dan mengadakan kunjungan dan karyawisata.
Kita selaku calon guru atau guru terkadang sulit untuk menciptakan bahwa lingkungan sekolah dapat dijadikan sumber belajar. Sehingga disini seorang guru harus mampu menciptakan kondisi sekolah ataupun ruang kelas yang mendukung proses pembelajaran termasuk belajar mandiri. Oleh karenanya penulis mengharapkan guru dapat manfaatkan lingkungan yang ada disekitar sekolah sebagai sumber belajar seperti koperasi, di koperasi siswa dapat belajar menghitung keuntungan dari penjualan, sistem kredit, manfaat koperasi dan sekaligus mempraktekkannya karena siswa merupakan anggota koperasi juga. UKS siswa dapat melihat langsung bagaimana cara menangani berbagai masalah kesehatan secara sederhana. Halaman Sekolah, berbagai tanaman dapat ditanam di sana, selain memperindah suasana sekolah, siswa dapat belajar berbagai hal seperti mengetahui bagian-bagian tanaman dan ekosistim. Halaman sekolah dapat dibuat kebun sekolah. Di kebun sekolah siswa dapat mempelajari sistem reproduksi pada tumbuhan, barbagai macam tumbuhan dengan lingkungan hidupnya, cara bercocok tanam dan mempraktekkannya secara langsung. Belajar melalui pengalaman nyata akan memberikan hasil belajar yang lebih baik, dan sumber belajar lainnya.
Seperti kita ketahui bahwa lingkungan pun bisa menjadi sumber belajar bagi kita semua, untuk itu dalam suatu lingkungan tersebut harus terciptanya suatu kebersamaan antar sesamanya dan terciptanya suatu lingkungan yang nyaman dan damai agar bisa menjadi inspirasi bagi kita dalam menyelesaikan masalah dengan baik dan mampu memberi solusi yang baik.
Diharapkan kita sebagai calon guru harus bisa memberikan arahan bagi anak didik kita bahwa lingkungan sekitar pun bisa dijadikan sebagai sumber belajar untuk mereka, dan mampu merawat lingkungan tersebut agar terjaga dengan baik. Dengan adanya lingkungan sekitar kita, kita bisa melihat kegunaan alam sekitar kita untuk mengenal kerjasama dengan kelompok untuk menyelesaikan suatu eksperimen atau pemecahan masalah terhadap lingkungan agar mereka bisa mengenal dan merasakan langsung dengan lingkungan mereka, bukan hanya melalui teori saja.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Aisyah. 2008. Lingkungan sebagai Sumber Belajar. (Online), Tersedia: http://PKR SD PDF/ [ 5 oktober 2012].

Abidin, M. Zainal. 20011. Pembelajarn Kelas Rangkap. (online), Tersedia: http://www.masbied.com/2011/07/19/pembelajaran-kelas-rangkap/, [5 Oktober 2012].

Djalil, Aria. dkk. 2003. Pembelajaran Kelas Rangkap. Jakarta : Universitas Terbuka.

LAMPIRAN

Makalah Kalimat Efektif

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kata merupakan unsur pembentuk kalimat. Kata adalah unsur bebas terkecil yang bermakna. Disebut sebagai unsur bebas terkecil karena kata dapat berdiri sendiri, yakni diucapkan atau dituliskan terpisah dari kata-kata yang lain. Sebagai unsur kalimat yang bermakna, kata digunakan untuk mewadahi dan menyampaikan pesan. Dengan demikian, kata menjadi salah satu unsur pembentuk kalimat yang sangat menentukan tingkat keefektifan kalimat.
Sebuah kata akan mendukung terbentuknya kalimat efektif apabila kata itu memiliki kesanggupan untuk mewadahi gagasan yang akan diungkapkan penutur dengan tepat dan memiliki kesanggupan untuk menimbulkan kembali gagasan itu dengan tepat pula pada benak (pikiran dan atau Perasaan) mitra tutur.
Kemampuan memilih kata merupakan salah satu bagian kemampuan menyusun kalimat efektif. Dalam berbahasa tulis, kemampuan memilih kata merupakan salah satu bagian kemampuan menyusun kalimat dalam menulis.
Kalimat dalam suatu karangan bukan sekedar untaian kata yang berstruktur dan mengandung gagasan atau pesan. Kalimat dalam karangan, dan juga dalam berbicara adalah kalimat yang hidup, kalimat yang dapat berinteraksi dengan pembaca.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apa itu yang dimaksud pemilihan kata?
2. Bagaimana pengembangan kalimat efektif?

C. Tujuan Makalah
Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu:
1. Untuk memenuhi mata kuliah keterampilan menulis.
2. Untuk memahami cara pemilihan kata.
3. Untuk memahami pengembangan kalimat efektif.
D. Manfaat Makalah
Manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini :
1. Diharapkan mahasiswa dapat memilih kata dalam membuat suatu kalimat atau karangan.
2. Diharapkan mahasiswa dapat mengembangkan kata menjadi kalimat yang efektif.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pilihan Kata
Keraf (1983) menyataka bahwa pemilihan dan pendayagunaan kata mengacu pada kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan tang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar. Untuk memahiri diri dalam memilih kata, ada pembiasaan pelatihan yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Penggunaan kata-kata yang bersinonim
Dalam setiap bahasa sangat lazim ditemukan kata-kata yang bersinonim. Untuk itu memahami kategori kata yang bersinonim sangatlah diperlukan agar dapat memilih salah satu anggota sinonim dengan tepat.
a. Sinonim yang salah satu anggotanya bermakna lebih umum, sementara yang lainnya lebih khusus. Ukurannya adalah keluasan kandungan makna: kata yang umum memiliki makna lebih luas daripada anggota sinonim yang lain. Contohnya:
Bermakna Umum Bermakna Khusus
Buku
Pemberian
Bersenang-senang
Bersekolah
Ujian
Guru
Pelajar/siswa Kitab
Sedekah
Berpesta
Berkuliah
Tentamen
Dosen
Mahasiswa
b. Sinonim yang perbedaanya terletak pada intensitas makna. Dalam hal ini, salah satu anggota sinonim bermakna lebih intensif daripada makna kata yang lain. Contohnya:
Lebih Intensif (mendalam) Kurang intensif
Meneliti
Memeriksa
Melihat
Menjenguk
Mengganggu Memeriksa, mempelajari
Melihat
Melirik
Menengok
mengacau
c. Sinonim yang perbedaannya terletak pada makna emotifnya. Dua kata atau lebih memiliki makna yang hampir sama, dan perbedaannya pada tingkat makna emotifnya. Contoh:
Lebih Emotif Kurang Emotif
Bengis
Nyaman
Duka
Ikhlas Kejam
Enak
Sedih, susah
Lega
d. Kata-kata bersinonim yang berbeda dalam penggunaan umum dan teknis. Dalam hal demikian, satu anggota kata yang bersinonim itu berlaku pada penggunaan bahasa dalam ragam komunikasi umum, sedangkan kata yang lain berlaku dalam ragam bahasa teknis. Ragam bahasa teknis adalah ragam bahasa yang digunakan dalam bidang ilmu tertentu. Contoh:
Umum Teknis
Verba
Mutasi
Amputasi
Renovasi Kata kerja
Perpindahan
Potong
Perbaikan
e. Sinonim yang memiliki perbedaan tingkat kebakuannya. Hal yang harus diperhatikan adalah ragam bahasa yang digunakan. Jika ragam bahasa yang digunakan adalah ragam baku, kata-kata yang dipilih juga kata-kata ragam baku. Kebakuan ragam itu antara lain ditandai oleh kosakatanya. Contoh berikut adalah kata baku dan tidak baku berdasarkan pilihan leksikon:
Leksikon Baku Leksikon Tidak Baku
Berkata
Membuat
Hanya
Tetapi
Karena
Beri
Sudah
Tidak
Bagi
Lepas
Suku cadang Bilang
Membikin
Cuma
Tapi
Lantaran
Kasi, kasih
Udah
Nggak, ndak
Buat
Copot
Onderdil

Ada juga kebakuan yang dilihat dari segi bentukan kata, yaitu:
Bentukan Baku Bentukan Tidak baku
Bercerita
Berdagang
Bernyanyi
Berpindah
Membantah
Mendapatkan
Mengapa
Mengelola
Melarang Cerita
Dagang
Nyanyi
Pindah
Mbantah
Dapat
Ngapain
Ngelola
Ngelarang
Dalam penyusunan kalimat yang dihubungkan dengan ragam bahasa, perlu memperhatikan kata-kata baku dan kata-kata tidak baku.
2. Penggunaan kata secara hemat
Penghematan tidak hanya berlaku pada pengelolaan biaya saja. Penghematan juga berlaku pada penggunaan bahasa. Pada penggunaan bahasa, penghematan itu ditandai oleh penggunaan kata.
Ada norma yang dapat digunakan untuk melihat penghematan penggunaan kata, yakni tingkat kemubaziran kata. Semakin tinggi tingkat kemubaziran kata, semakin tinggi pula ketidakhematan kata yang digunakan. Norma itu juga dapat digunakan untuk mengukur kehematan suatu kata dalam kalimat. Contoh:
a. Nilai etis tersebut di atas menjadi pedoman dan dasar pegangan hidup bagi setiap warga Negara Indonesia.
b. Nilai etis tersebut menjadi pedoman hidup bagi setiap warga Negara Indonesia.
Pada kalimat (b) lebih hemat daripada penggunaan kata-kata pada kalimat (a).
3. Penggunaan kata secara konsisten
Pilihan kata terikat pada konsistensi. Kata-kata yang digunakan dalam kalimat memenuhi syarat konsistensi apabila kata-kata digunakan untuk mengungkapkan gagasan secara setia. Pemertahan bahasa hanya dapat dilakukan dengan penggunaan kata secara setia. Kata murid dan siswa bersinonim, tetapi begitu dipilih salah satu, itulah yang digunakan dalam bahasa kalimat-kalimat karangan tersebut.
Contoh:
a. Pelucutan senjata di wilayah Bosnia itu tidak terpenting bagi muslim Bosnia. Bagi mereka, yang terpenting adalah pencabutan embargo persenjataan.
b. Pelucutan senjata di wilayah Bosnia itu tidak penting bagi muslim Bosnia. Untuk mereka, yang terpenting adalah pencabutan embargo persenjataan.
Kata-kata bercetak tebal pada contoh (a) menunjukkan konsistensi, sedangkan kata-kata pada contoh (b) menunjukkan inkonsistensi. Konsistensi penggunaan kata tidak hanya dihubungkan dengan gagasan diungkapkan dengan kata itu, tetapi juga duhubungkan dengan kata lain yang sudah digunakan. Dengan demikian, jika ada modifikasi bentuk dan makna, modifikasi itu juga tidak dapat dilepaskan dari kata lain yang berhubungan itu.
Pemertahan kata dalam penggunaan demi konsistensi itu sangat ketat pada penggunaan istilah. Dalam ragam bahasa teknis terdapat kemungkinan kata-kata istilah teknis yang bersinonim. Jadi dalam penggunaannya memilih salah satu saja secara konsisten.

B. Pengembangan Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran pembaca atau penulis.
1. Persyaratan kalimat efektif
Kalimat efektif dapat diwujudkan dengan memperhatikan persyaratan yang berlaku. Setidaknya,ada persyaratan yang harus diperhatikan, yakni persyaratan kebenaran struktur (correctness) dan persyaratan kecocokkan konteks (appropriacy), sesuai yang dikemukakan oleh Widdowson (1979) tentang penggunaan bahasa.
a. Persyaratan kebenaran struktur
Kalimat efektif terikat pada kaidah struktur. Dengan keterikatan itu, kalimat efektif dituntut memiliki struktur yang benar. Struktur itu dapat dilihat pada hubungan antarunsur kalimat.
Contoh:
(1) Saya sarankan sudah agar rapat ditunda pelaksanaannya agar anggota semuanya dapat hadir.
(2) Saya sudah sarankan agar rapat ditunda pelaksanaannya agar anggota semuanya dapat hadir.
(3) Sudah saya sarankan agar pelaksanaan rapat ditunda agar semua anggota dapat hadir.
Dalam contoh (1) bukanlah kalimat karena tidak mengikuti kaidah struktur, contoh (2) adalah kalimat yang masih mengandung kesalahan struktur, sedangkan contoh (3) adalah kalimat yang mengikuti kaidah struktur tanpa kesalahan.
Dari uraiantersebut, dapat dilihat bahwa struktur kalimat berada dalam rentangan kebenaran struktur. Ada yang betul-betul tidak berstruktur,ada yang berstruktur tetapi mengandung kesalahan struktur, dan ada yang betul-betul berstruktur benar.
Kalimat yang berstruktur benar adalahkalimat yang unsur-unsurnya memiliki hubungan yang jelas. Dengan hubungan fungsi yang jelas itu, makna yang terkandung di dalamnya juga jelas. Pada tataran frasa, dapat membedakan makna tadi pagi dan pagi tadi, ayah almarhum dan almarhum ayah, usulan dana dan dana usulan berdasarkan hukum D-M. unsur yang di depan pada frasa itu menjadi unsur inti, sedangkan unsur yang di belakang menjadi unsur atribut atau penjelas. Pada tataran kalimat, unsur-unsur yang memiliki fungsi sintaktis seperti subjek, predikat,objek, pelengkap, dan keterangan juga harus jelas.
b. Persyaratan kecocokan
Persyaratan kecocokan adalah persyaratan yang mengatur ketepatan kalimat dalam konteks. Kalimat (1), (2), (3), dan (4) berikut sudah memenuhi persyaratan kebenaran, tetapi hanya pada contoh (1) dan (2) yang memenuhi persyaratan kecocokan.
(1) Belum ada hujan di daerah yang mengalami kekurangan air itu. Gerimis pun tak pernah ada.
(2) Sudah lama tidak hujan. Gerimis pun tak pernah ada.
(3) Kemungkinan akan ada hujan bulan ini. Gerimis pun tak pernah ada.
(4) Pada musim kemarau hanya ada satu atau dua kali hujan. Gerimis pun tak pernah ada.
Kecocokan tidak hanya ditentukan oleh konteks kebahasaan, yakni konteks yang berupa kalimat sebelumnya. Konteks non-kebahasaan juga sangat menentukan kecocockan itu. Berikut kalimat (1), (2), dan (3) memiliki konteks penggunaan yang berbeda. Kalimat itu diungkapkan di depan orang yang hubungannya dengan penutur berbeda-beda.
(1) Silakan minum, Pak!
(2) Minumlah!
(3) Minum!
2. Kiat penyusunan kalimat efektif
a. Kiat pengulangan
Dalam menghasilkan kalimat efektif, kiat itu digunakan untuk memperlihatkan bagian dipentingkan dalam kalimat. Dengan pengulangan itu, bagian kalimat yang diulang menjadi menonjol. Pengulangan itu dapat diperlihatkan dalam sebuah kalimat seperti contoh (1) berikut dan dapat pula dalam untaian kalimat seperti contoh (2) atau (3).
(1) Untuk menguasai kamahiran menulis diperlukan latihan, latihan, dan sekali lagi latihan.
(2) Anda berdarah seniman. Anda punya bakat seni. Anda akan menjadi seniman jika mau.
(3) Rhonald sangat aman. Teknologi micorgrain Rhonald memberikan perlindungan maksimum bagi lambung. Sedemikian aman hingga kita perlu Rhonald Rhonald dapat diminum setiap saat.
Pengulangan tidak harus dengan bentuk yang sama. Pengulangan dapat dilakukan dengan bentuk-bentuk yang berbeda.
b. Pengedepanan
Daam penyampaian informai, pengedepanan itu lazim untuk menunjukkan bahwa hal yang dikedepankan itu penting. Contoh:
”Konidin melenyapkan batuk dengan melegakan tenggorokan Anda. Konidin, tablet batuk dengan formulasi khusus dari Konimex untuk meredakan batuk dengan cepat. Konidin telah terbukti kemanjurannya”.

c. Penyejajaran
Penyejajaran itu menimbulkan kesan bahwa unsur yang disejajarkan itu penting. Hal itu dapat dipahami karena unsure yang disejajarkan itu tampak menonjol, seperti yang terlihat pada contoh berikut:
“yang dilakukannya selama ini di kampong adalah mengurus harta pusaka, mengerjakan sawah, menjenguk sanak family, dan membersihkan kuburan nenek”.
Penyejajaran dapat pula dilakukan dalam untaian kalimat, seperti contoh berikut:
“mengarang bukanlah pekerjaan ynag sukar, yang membuat anda susah dan tersiksa. Mengarang bukanlah momok, yang membuat orang harus ketakutan. Mengarang adalah pekerjaan yang menarik, yang membuat orang bahagia”.
Prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyejajaran adalah konsistensi, yang dapat dipilih atas konsistensi kategori dan konsistensi struktur. Konsistensi kategori ditampakkan pada kategori kata. Jika penyejajaran dikenakan pada verba, seperti melirik, anggota selanjutnya juga verba, seperti melihat,memperhatikan, dan melototi.
d. Pengaturan variasi kalimat
Variasi dapat dikenakan pada dua hal, yakni variasi struktur dan variasi jenis. Variasi struktur memiliki kemungkinan struktur aktif-pasif, struktur panjang-pendek. Variasi jenis memiliki kemungkinan jenis kalimat berita, kalimat Tanya, dan kalimat seru. Variasi struktur terlihat pada contoh (1) dan (2), sedangkan variasi jenis terlihat pada contoh (3) dan (4) berikut:
(1) Subroto dating ke rumah Cepluk. Di sanalah dia bertemu Cepluk yang pertama kali.
(2) Kemarin saya meminjam buku dari perpustakaan. Buku itu say abaca tadi malam dan sekarang akan saya kembalikan.
(3) Anda harus mau dan berani menghadapi berbagai usaha penyelewengan. Jangan ragu-ragu! Jangan takut-takut! Mengapa? Anda semua adalah tunas-tunas pemimpin bangsa yang terandalkan.
(4) Persebaya akan bermain di Ujung Pandang. Kemenangan harus dipetik dari pertandingan itu, sekalipun dengan resiko berbahaya.
Unsur-unsur kalimat efektif, sebagai berikut:
1. Kesepadanan
Yaitu keseimbangan antara gagasan dan struktur bahasa yang dipakai. Ciri-ciri kalimat kesepadanan yaitu:
a. Mempunyai subjek dan predikat yang jelas
Contoh:
Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang SPP. (salah)
Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang SPP. (benar)
b. Tidak terdapat subjek ganda
Contoh:
Soal itu saya kurang jelas. (kurang tepat)
Soal itu bagi saya kurang jelas. (benar)
c. Kata penghubung intra kalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal
Contoh:
Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama. (salah)
Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama. (benar)
d. Predikat kalimat tidak didahului kata yang
Contoh:
Sekolah kami yang terletak di depan bioskop 21. (salah)
Sekolah kami terletak di depan bioskop 21. (benar)
2. Keparalelan
Yaitu kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu.
Contoh:
Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes. (tidak paralel)
Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara luwes. (paralel)
3. Ketegasan
Yaitu suatu penonjolan pad aide pokok kalimat. Berbagai cara untuk membentuk penekanan pada kalimat:
a. Meletakkan kata yang ditonjolkan di depan kalimat
Contoh: Harapan presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya.
b. Membuat urutan kata yang bertahap
Contoh: Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
c. Melakukan pengulangan
Contoh: Saya suka akan kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka.
d. Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan
Contoh: Anak itu tidak malas dan curang, tetapi dia rajin dan jujur.
e. Mempergunakan partikel tekanan
Contoh: Saudaralah yang bertanggung jawab.
4. Kehematan
Yaitu hemat dalam menggunakan kata, phrase, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Ciri-ciri yang perlu diperhatikan:
a. Menghilangkan pengulangan subjek
Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
Seharusnya:
Karena tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
b. Menghindarkan penggunaan superordinat pada hiponim kata
Ia memakai baju warna merah. Bandingkan dengan: Ia memakai baju merah.
c. Menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
Sejak dari pagi dia termenung. Bandingkan dengan: Sejak pagi dia termenung.
d. Menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak
Para tamu-tamu (tidak baku)
Para tamu (baku)
5. Kecermatan
Yaitu tidak menimbulkan tafsiran ganda.
Contoh:
Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah.
Kalimat tersebut memiliki makna ganda, yaitu
Siapa yang terkenal, mahasiswa atau perguruan tinggi.
6. Kepaduan
Kepaduan pernyataan dalam kalimat sehingga informasi yang disampaikan tidak terpecah-pecah. Hal-hal yang perlu diperhatikan:
a. Hindari kalimat panjang dan bertele-tele
Kita harus mengembalikan kepribadian kita orang-orang kota yang terlanjur meninggalkan rasa kemanusiaan itu.
b. Gunakan kalimat secara tertib
Surat itu saya sudah baca. Bandingkan dengan: Surat itu sudah saya baca.
c. Jangan menyisipkan kata: daripada atau tentang
Mereka membicarakan daripada tentang rakyat.
7. Kelogisan
Yaitu dapat diterima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku.
Untuk mempersingkat waktu, kita teruskan acara ini.
Bandingkan dengan:
Untuk menghemat waktu, kita teruskan acara ini.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Keraf (1983) menyataka bahwa pemilihan dan pendayagunaan kata mengacu pada kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan tang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar.
Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran pembaca atau penulis.
Kalimat efektif dapat diwujudkan dengan memperhatikan persyaratan yang berlaku. Setidaknya,ada persyaratan yang harus diperhatikan, yakni persyaratan kebenaran struktur (correctness) dan persyaratan kecocokkan konteks (appropriacy).

Makalah Profesi Guru

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tujuan pendidikan nasional adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Oleh karena itu agar pendidikan dapat terwujud diperlukan tenaga pendidikan yang berlatar belakang mengerti akan profesi keguruan. Menjadi guru adalah menghayati profesi. Apa yang membedakan sebuah profesi, dengan pekerjaan lain adalah bahwa untuk sampai pada profesi itu seseorang berproses lewat belajar.“Profesi merupakan pekerjaan, dapat juga berwujud sebagai jabatan dalam suatu birokrasi, yang menuntut keahlian tertentu serta memiliki etika khusus untuk jabatan itu serta pelayanan baku terhadap masyarakat profesi, lembaga pendidikan hanya akan diisi orang-orang yang bernafsu memuaskan kepentingan diri dan kelompok. Tanpa etika profesi, nilai kebebasan dan individu tidak dihargai. Untuk inilah, tiap lembaga pendidikan memerlukan keyakinan normatif bagi kinerja pendidikan yang sedang diampunya. Sekolah dan guru tidak lagi percaya dan dipercaya sebagai pendidik dan pengajar.
Dengan adanya etika profesi atau kode etik guru ini diharapkan menjadi guru yang professional. Guru yang professional adalah guru yang melakukan pekerjaan yang sudah dikuasai atau telah dibandingkan baik secara konsepsional secara teknik atau latihan. Dari keterangan di atas tersebut maka dapat dikatakan bahwa profesional guru adalah seperangkat fungsi dan tugas dalam lapangan pendidikan dalam latihan khusus di bidang pekerjaannya dan mampu mengembangkan keahliannya itu secara ilmiah di samping menekuni bidang profesinya. Oleh karena itu kami menyusun makalah ini berkaitan dengan hal-hal tentang profesi keguruan.
B. Rumusan Masalah
Dalam penyusunan makalah ini, terdapat beberapa rumusan masalah adalah sebagai berikut:
1. Apa guru, profesi dan profesional?
2. Apa saja kompetensi yang harus dimilki oleh guru?
3. Bagaimana menjadi guru yang profesional?
4. Apa saja kode etik guru?

C. Tujuan Masalah
Dari rumasan masalah di atas, maka terdapat beberapa tujuan antara lain untuk:
1. Mengetahui definisi guru, profesi dan profesional.
2. Mengetahui kompetensi yang harus dimilki oleh guru.
3. Mengetahui cara menjadi guru yang profesional.
4. Mengetahui kode etik guru.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Guru, Profesi dan Profesional
1. Pengertian Guru
Guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-murid, baik secara individual maupun klasikal, baik di sekolah maupun luar sekolah. Menurut pepatah jawa, Guru adalah digugu lan ditiru yang berarti bahwa guru merupakan sosok yang menjadi panutan bagi siswanya dan masih ada banyak pepatah yang berhubungan dengan guru lainnya walaupun intinya sama. Saat ini sosok guru sudah ikut “ter-reformasi”. Guru dituntut untuk memiliki ilmu pengetahuan yang selalu berkembang dan mengikuti kemajuan jaman. Sudah tidak waktunya lagi guru yang kaku, memiliki pengetahuan terbatas, dan tidak mau terbuka dengan kemajuan teknologi.
Berikut ini adalah pengertian dan definisi guru:
a. UU RI NO 14 TAHUN 200
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
b. ZAKIYAH DARADJA
Guru adalah pendidik profesional karena secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul di pundah paa orang tua.
c. POERWADARMINT
Guru adalah orang yang kerjanya mengajar.
d. SUPRIYADI
Guru adalah orang yang berilmu, berakhlak, jujur dan baik hati, disegani, serta menjadi teladan bagi masyarakat.
e. UMAR TIRTA & LA SULA
Guru adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dan sasaran peserta didik.
f. OEMAR HAMALIK
Guru adalah orang yang bertanggung jawab dalam merencanakan dan menuntun murid-murid untuk melakukan kegiatan-kegiatan belajar guna mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan.
2. Pengertian Profesi
Hendyat Soetopo berpendapat bahwa profesi adalah jabatan atau pekerjaan yang mempersyaratkan keahlian sebagai hal yang melatarbelakangi, memiliki etika organisasi profesi yang mewadahinya. Kedua, pengertian profesional adalah yang melakukan pekerjaan yang sudah dikuasai atau telah dibandingkan baik secara konsepsional secara teknik atau latihan.
Menurut Arifin Profession atau profesi mengandung arti yang sama dengan kata accupation atau pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan atau latihan khusus. Profesionalisme berarti suatu pandangan bahwa suatu keahlian tertentu diperlukan dalam pekerjaan tertentu yang keahlian itu hanya diperoleh melalui pendidikan khusus atau latihan.
Menurut Kartadinatap profesi guru adalah orang yang Memiliki latar belakang pendidikan keguruan yang memadai, keahlian guru dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan diperoleh setelah menempuh pendidikan keguruan tertentu, dan kemampuan tersebut tidak dimiliki oleh warga masyarakat pada umumnya yang tidak pernah mengikuti pendidikan keguruan..
Makagiansar, M. profesi guru adalah orang yang memiliki latar belakang pendidikan keguruan yang memadai, keahlian guru dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan diperoleh setelah menempuh pendidikan keguruan tertentu.
3. Pengertian Profesional
Ahmad Tafsir mengatakan profesionalisme ialah faham yang mengajarkan bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan oleh orang yang profesional.Orang yang profesional adalah orang yang memiliki profesi, sedangkan profesi itu harus mengandung keahlian artinya suatu program itu mesti dilandasi oleh suatu keahlian khusus untuk profesi.
Profesionalisme dalam pendidikan tidak lain ialah seperangkat fungsi dan tugas dalam lapangan pendidikan berdasarkan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan khusus di bidang pekerjaan yang mampu menekuni bidang profesinya selama hidupnya. Mereka itu adalah para guru yang profesional yang memiliki kompetensi keguruan berkat pendidikan atau latihan di lembaga pendidikan guru dalam jangka waktu tertentu.
Dari beberapa pendapat di atas dapat dikatakan bahwa profesionalisme merupakan suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan lanjut didalam pengetahuan dan teknologi dasar untuk diimplementasikan dalam berbagai kegiatan yang bermanfaat.

B. Kompetensi Guru
Kompetensi berasal dari bahasa inggris, yakni “Competency” yang berarti kecakapan, kemampuan. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kompetensi adalah kewenangan untuk menentukan sesuatu.
Dalam hal inilah guru perlu mengetahui dan memahami kompetensi sebagai guru dengan segala seluk beluknya. Kompetensi guru yang dikatan sebagai modal dalam pengelolaan pendidikan dan pengajaran banyak macamnya. Secara garis besar dapat di lihat dari dua segi yaitu dari segi kompetensi pribadi dan dari kompetensi professional. Adapun macam-macam kompetensi tersebut ialah:
1. Mengembangkan kepribadian
2. Berintraksi dan berkomunikasi
3. Melaksanakan bimbingan dan penyuluhan
4. Melaksanakan administrasi sekolah
5. Melaksanakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran
6. Menguasi landasan kependidikan
7. Menguasi bahan pengajaran
8. Menyusun program pengajaran
9. Melaksanakan program pengajaran

C. Guru Profesional
Profesional guru adalah seperangkat fungsi dan tugas dalam lapangan pendidikan dalam latihan khusus di bidang pekerjaannya dan mampu mengembangkan keahliannya itu secara ilmiah di samping menekuni bidang profesinya.
Selanjutnya Roestiyah dengan staf pembina ilmu keguruan IKIP Malang menjelaskan bahwa guru profesional adalah seseorang yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap profesional yang mampu dan setia mengembangkan profesinya menjadi anggota organisasi profesional pendidikan, memegang teguh kode etik profesinya, ikut serta dalam mengkomunikasikan usaha pengembangan profesinya dan bekerja sama dengan profesi yang lain.
Adapun Imam Tholkhah dan A. Barizi mengutip pendapat M. Arifin menegaskan bahwa guru yang profesional adalah guru yang mampu mengejawantahkan seperangkat fungsi dan tugas keguruan dalam lapangan pendidikan dan latihan khusus di bidang pekerjaan yang mampu mengembangkan kekaryaannya itu secara ilmiah di samping mampu menekuni profesinya selama hidupnya.
Jadi dapat diartikan yaitu guru yang memiliki kompetensi keguruan berkat pendidikan dan latihan di lembaga pendidikan guru dalam jangka waktu tertentu. Tidak hanya itu, guru profesional adalah guru yang memiliki kecakapan dalam manajemen kelas dalam rangka proses pembelajaran yang efektif dan efisien.
Secara sederhana kualifikasi profesional kependidikan guru dijelaskan sebagai berikut:
a. Kapabilitas personal (person kappability) yaitu guru diharapkan memilki pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan serta sikap yang lebih mantap dan memadai sehingga mampu mengelola proses pembelajaran secara efektif.
b. Guru sebagai inovator yang berarti memiliki komitmen terhadap upaya perubahan dan informasi. Guru diharapkan memiliki pengetahuan kecakapan, dan keterampilan serta sikap yang tepat terhadap pembaruan dan sekaligus penyebar ide pembaruan efektif.
c. Guru sebagai developer yang berati ia harus memiliki visi keguruan yang mantap dan luas perspektifnya. Guru harus mampu dan mau melihat jauh kedepan (the future thingking) dalam menjawab tantangan-tantangan zaman yang dihadapi oleh sektor pendidikan sebagai sebuah sistem.

D. Kode Etik Guru

1. Pengertian Kode Etik
Kode etik adalah pola aturan, tata cara, tanda, pedoman etis dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan. Kode etik merupakan pola aturan atau tata cara etis sebeagai pedoman dalam berprilaku. Etis berarti sesuai dengan nilai-nilai dan norma yang dianut oleh sekolompok orang atau masyarakat tertentu.
Dalam kaitannya dengan Istilah profesi, kode etik merupakan tata cara atau aturan yang menjadi standar kegiatan anggota suatu profesi.
Gibson and Mitchel (1995;449): suatu kode etik menggambarkan nilai-nilai profesional suatu profesi yang diterjemahkan dalam standar prilaku anggotanya.
Nilai profesional tadi ditandai adanya sifat altruistis artinya lebih mementingkan kesejahteraan orang lain dan berorientasi pada pelayanan umum dengan prima.
Kode etik dijadikan standar aktivitas anggota profesi, kode etik itu sekaligus dijadikan pedoman tidak hanya bagi anggota profesi tetapi juga dijadikan pedoman bagi masyarakat untuk menjaga bias/kesewenangan penggunaan kode etik.
2. Fungsi Kode Etik
Pada dasarnya kode etik berfungsi sebagai, perlindungan dan pengembangan bagi profesi itu, dan sebagai pelindung bagi masyarakat pengguna jasa pelayanan suatu profesi. Gibson and Mitchel (1995;449), sebagai pedoman pelaksanaan tugas profesional anggota suatu profesi dan pedoman bagi masyarakat pengguna suatu profesi dalam meminta pertanggungjawaban jika anggota profesi yang bertindak di luar kewajaaran.
Secara umum fungsi kode etik guru berfungsi sebagai berikut:
a. Agar guru memiliki pedoman dan arah yang jelas dalam melaksanakan tugasnya, sehingga terhindar dari penyimpangan profesi;
b. Agar guru bertanggungjawab atas profesinya;
c. Agar profesi guru terhindar dari perpecahan dan pertentangan internal;
d. Agar guru dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan
e. Agar profesi ini membantu memecahkan masalah dan mengembangkan diri;
f. Agar profesi ini terhindar dari campur tangan profesi lain dan pemerintah

3. Kode Etik Guru Indonesia
a. Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia indonesia seutuhnya berjiwa Pancasila
b. Guru memiliki dan melaksanakan kewjujuran professional
c. Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan
d. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar mengajar
e. Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan tanggung jawab bersama terhadap pendidikan
f. Guru secara pribadi dan secara bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu da martabat profesinya
g. Guru memelihara hubungan profesi semangat kekeluargaan dan kesetiakawanana nasional
h. Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organiosasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian
i. Guru melaksanaakn segala kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-murid, baik secara individual maupun klasikal, baik di sekolah maupun luar sekolah. Profesi guru adalah orang yang memiliki latar belakang pendidikan keguruan yang memadai, keahlian guru dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan diperoleh setelah menempuh pendidikan keguruan tertentu. Guru yang profesional yang memiliki kompetensi keguruan berkat pendidikan atau latihan di lembaga pendidikan guru dalam jangka waktu tertentu.
Kompetensi guru yang dikatan sebagai modal dalam pengelolaan pendidikan dan pengajaran banyak macamnya. Secara garis besar dapat di lihat dari dua segi yaitu dari segi kompetensi pribadi dan dari kompetensi professional.
Jadi dapat diartikan yaitu guru yang memiliki kompetensi keguruan berkat pendidikan dan latihan di lembaga pendidikan guru dalam jangka waktu tertentu. Tidak hanya itu, guru profesional adalah guru yang memiliki kecakapan dalam manajemen kelas dalam rangka proses pembelajaran yang efektif dan efisien.
Kode Etik Guru Indonesia
• Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia indonesia seutuhnya berjiwa Pancasila
• Guru memiliki dan melaksanakan kewjujuran professional
• Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan
• Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar mengajar
• Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan tanggung jawab bersama terhadap pendidikan
• Guru secara pribadi dan secara bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu da martabat profesinya
• Guru memelihara hubungan profesi semangat kekeluargaan dan kesetiakawanana nasional
• Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organiosasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian
• Guru melaksanaakn segala kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan

B. Saran
Makalah ini masih kurang dari sempurna oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi penyempurnaan atau perbaikan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Sejarah Perkembangan Kurikulum Pendidikan di Indonesia

Pendidikan dalam peradaban anak manusia merupakan hal yang paling urgen. Semenjak manusia berinteraksi dengan aktifitas pendidikan ini semenjak itulah manusia berhasil merealisasikan berbagai perkembangan dan kemajuan dalam segala lini kehidupan mereka. Bahkan pendidikan adalah sesuatu yang alami dalam perkembangan peradaban manusia. Secara paralel proses pendidikan pun mengalami kemajuan yang sangat pesat, baik dalam bentuk metode, sarana maupun target yang akan dicapai. Karena hal ini merupakan satu sifat dan keistimewaan dari pendidikan, yaitu bersifat maju. Dan apabila sebuah pendidikan tidak mengalami serta tidak menyebabkan suatu kemajuan atau menimbulkan kemunduran maka tidaklah dinamakan pendidikan. Karena pendidikan adalah sebuah aktifitas yang integral yang mencakup target, metode dan sarana dalam membentuk manusia-manusia yang mampu berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungannya, baik internal maupun eksternal demi terwujudnya kemajuan kemajuan yang lebih baik. Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan Indonesia, pemerintah berupaya melakukan berbagai reformasi dalam bidang pendidikan. Dan sebagai sarana untuk meningkatkan mutu pendidikan diperlukan sebuah kurikulum.
A. Pengertian Kurikulum
Istilah kurikulum (curriculum) berasal dari kata curir (pelari) dan curere (tempat berpacu), dan pada awalnya digunakan dalam dunia olahraga. Pada saat kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai finish untuk memperoleh medali/penghargaan. Kemudian, pengertian tersebut diterapkan dalam dunia pendidikan menjadi sejumlah mata pelajaran (subject) yang harus ditempuh oleh seorang siswa dari awal sampai akhir program pelajaran untuk memperoleh penghargaan dalam bentuk ijazah.
Istilah kurikulum pada dasarnya tidak hanya berbatas pada sejumlah mata pelajaran saja, tetapi mencakup semua pengalaman belajar (learning experiences) yang dialami siswa dan memengaruhi perkembangan pribadinya. Bahkan Harold B. Alberty (1965) memandang kurikulum sebagai semua kegiatan yang diberikan kepada siswa di bawah tanggung jawab sekolah (all of the activities that are providet for the students by the school). Sehingga kurikulum tidak dibatasi pada kegiatan di dalam kelas, tetapi mencakup juga kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh siswa di luar kelas.
Pendapat senada dan menguatkan pengertian tersebut dikemukakan oleh Saylor, Alexander, dan Lewis (1974) yang menganggap kurikulum sebagai segala upaya sekolah untuk mempengaruhi siswa supaya belajar, baik dalam ruangan kelas, di halaman sekolah maupun di luar sekolah.
Sedangkan menurut Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional pasal 1 ayat (19) Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiata pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

B. Fungsi Pengembangan Kurikulum
Fungsi kurikulum identik dengan pengertian kurikulum itu sendiri yang berorientasi pada pengertian kurikulum dalam arti luas bagi pengembangan buku ajar, pengadaan media dan sarana, pengembangan staf, pengawasan dan pengujian. Maka fungsi kurikulum mempunyai arti sebagai berikut:
1. Sebagai pedoman penyelenggaraan pendidikan pada suatu tingkatan lembaga pendidikan tertentu dan untuk memungkinkan pencapain tujuan dari lembaga pendidikan tersebut.
2. Sebagai batasan dari program pendidikan (bahan pengajaran) yang akan dijalankan pada satu semester, kelas, maupun pada tingkat pendidikan tersebut.
3. Sebagai pedoman guru dalam menyelenggarakan Proses Belajar Mengajar, sehingga kegiatan yang dilakukan guru dan siswa terarah kepada tujuan yang ditentukan.
Dengan demikian fungsi kurikulum pada dasarnya adalah program kegiatan yang tercantum dalam kurikulum yang akan mempengaruhi atau menentukan pribadi siswa yang diinginkan. Oleh karena itu pengembangan kurikulum perlu memperhatikan beberapa hal:
1. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional.
2. Tuntutan dunia kerja.
3. Aturan agama, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
4. Dinamika perkembangan global.
5. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.
Dalam aktivitas belajar mengajar, kedudukan kurikulum sangat krusial, karena dengan kurikulum anak didik akan memperoleh manfaat. Namun, di samping kurikulum bermanfaat bagi anak didik, ia juga mempunyai fungsi-fungsi lain sebagai berikut:
1. Fungsi kurikulum dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan
Di Indonesia, ada empat tujuan pendidikan utama yang secara hierarkis dapat dikemukakan, yaitu tujuan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler, dan tujuan instruksional. Dalam pencapaian tujuan pendidikan yang dicita-citakan, tujuan-tujuan tersebut mesti dicapai secara bertingkat dan saling mendukung, sedangkan keberadaan kurikulum disini adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan (pendidikan).
2. Fungsi kurikulum
Kurikulum sebagai organisasi belajar tersusun merupakan suatu persiapan bagi anak didik. Anak didik diharapkan mendapat sejumlah pengalaman baru yang di kemudian hari dapat dikembangkan seirama dengan perkembangan anak, agar dapat memenuhi bekal hidupnya nanti.
3. Fungsi kurikulum bagi pendidik
Adapun fungsi kurikulum bagi guru atau pendidik adalah sebagai pedoman kerja dalam menyusun dan mengorganisasikan pengalaman belajar para anak didik dan pedoman untuk mengadakan evaluasi terhadap perkembangan anak didik dalam rangka menyerap sejumlah pengalaman yang diberikan.
4. Fungsi kurikulum bagi kepala/pembina sekolah/madrasah
Kepala sekolah merupakan administrator dan supervisor yang mempunyai tanggung jawab terhadap kurikulum. Fungsi kurikulum bagi kepala sekolah dan para pembina lainnya adalah sebagai berikut:
a. Sebagai pedoman dalam mengadakan fungsi supervisi, yaitu memperbaiki situasi belajar.
b. Sebagai pedoman dalam melaksanakan supervisi dalam menciptakan situasi untuk menunjang situasi belajar anak kearah yang lebih baik.
c. Sebagai pedoman dalam melaksanakan supervisi dalam memberikan bantuan kepada guru atau pendidik agar dapat memperbaiki situasi mengajar.
d. Sebagai seorang administrator yang menjadikan kurikulum sebagai pedoman untuk pengembangan kurikulum pada masa mendatang.
e. Sebagai pedoman untuk mengadakan evaluasi atas kemajuan belajar mengajar.
5. Fungsi kurikulum bagi orang tua
Bagi orang tua, kurikulum difungsikan sebagai bentuk adanya partisipasi orang tua dalam membantu usaha sekolah dalam memajukan putra-putrinya. Bantuan tersebut dapat berupa konsultasi langsung dengan sekolah/guru mengenai masalah-masalah yang menyangkut anak-anak mereka. Bantuan berupa pemikiran, materi dari orangtua atau masyarakat anak dapat melalui lembaga komite sekolah.
6. Fungsi kurikulum bagi sekolah tingkat di atasnya
Fungsi kurikulum dalam hal ini dapat dibagi menjadi dua. Pertama, pemeliharaan keseimbangan proses pendidikan. Pemahaman kurikulum yang digunakan oleh sekolah pada tingkatan di atasnya dapat melakukan penyesuaian di dalam kurikulumnya hal-hal berikut:
a. Jika sebagian kurikulum sekolah bersangkutan telah diajarkan pada sekolah yang berada dibawahnya, sekolah dapat meninjau kembali perlu tidaknya bagian tersebut diajarkan.
b. Jika keterampilan-keterampilan tertentu yang diperlukan dalam mempelajari kurikulum suatu sekolah belum diajarkan pada sekolah yang berada dibawahnya, sekolah dapat mempertimbangkan masuknya program tentang keterampilan-keterampilan ini kedalam kurikulumnya.
Kedua, penyiapan tenaga baru. Jika suatu sekolah berfungsi menyiapkan tenaga pendidik bagi sekolah yag berada dibawahnya, perlu sekali sekolah tersebut memahami kurikulum sekolah yang berada dibawahnya itu.
7. Fungsi bagi masyarakat dan pemakai lulusan sekolah/madrasah
Kurikulum suatu sekolah juga berfungsi bagi masyarakat dan pihak pemakai lulusan sekolah bersangkutan. Dengan mengetahui kurikulum suatu sekolah, masyarakat sebagai pemakai lulusan, dapat melaksanakan sekurang-kurangnya:
a. Ikut memberikan kontribusi dalam memperlancar pelaksanaan program pendidikan yang membutuhkan kerja sama dengan pihak orangtua dan masyarakat.
b. Ikut memberikan kritik dan saran konstruktif demi penyempurnaan program pendidikan disekolah, agar lebih serasi dengan kebutuhan masyarakat dan lapangan kerja.

C. Prinsip-prinsip Pengembangn Kurikulum

1. Prinsip Relevansi
Ada dua macam relavansi internal dan relevansi eksternal. Relevansi internal adalah bahwa setiap kurikulum harus memiliki keserasian antara komponen-komponennya, yaitu keserasian antara tujuan yang harus dicapai, isi, materi atau pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa, strategi atau metode yang digunakan serta alat penilaian untuk melihat ketercapaian tujuan. Relevansi internal ini menunjukkan keutuhan suatu kurikulum. Kurikulum eksternal berkaitan dengan keserasian antara tujuan, isi dan proses belajar siswa yang tercakup dalam kurikulum dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat.
2. Prinsip Fleksibelitas
Kurikulum itu harus bisa dilaksanakan sesuai dengan kondisi yang ada. Kurikulum yang kaku tidak fleksibel akan sulit diterapkan
3. Prinsip Kontinuitas
Prinsip ini mengandung arti bahwa perlu dijaga saling keterkaitan dan berkesinambungan antara materi pada berbagai jenjang dan jenis program pendidikan
4. Prinsip Efektifitas
Prinsip efektifitas berkenaan dengan rencana dalam suatu kurikulum dapat dilaksanakan dan tepat dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Terdapat dua efektifitas dalam suatu pengembangan kurikulum. Pertama, efektifitas yang berhubungan dengan guru dalam melaksanakan tugas mengimplementasikan kurikulum di kelas. Kedua, efektifitas kegiatan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar.
5. Prinsip Efisiensi
Prinsip efisiensi berhubungan dengan perbandingan antara tenaga, waktu dan suara, serta biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh.

D. Sejarah Perkembangan Kurikulum di Indonesia
Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, dan yang sekarang 2006. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945. Perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.
Perubahan kurikulum tersebut tentu disertai dengan tujuan pendidikan yang berbeda-beda, karena dalam setiap perubahan tersebut ada suatu tujuan tertentu yang ingin dicapai untuk memajukan pendidikan nasional kita. Perubahan kurikulum di dunia pendidikan Indonesia beserta tujuan yang ingin dicapai dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Kurikulum 1947
Kurikulum pertama pada masa kemerdekaan namanya Rencana Pelajaran 1947. Ketika itu penyebutannya lebih populer menggunakan leer plan (rencana pelajaran) ketimbang istilah curriculum dalam bahasa Inggris. Rencana Pelajaran 1947 bersifat politis, yang tidak mau lagi melihat dunia pendidikan masih menerapkan kurikulum Belanda, yang orientasi pendidikan dan pengajarannya ditujukan untuk kepentingan kolonialis Belanda. Asas pendidikan ditetapkan Pancasila. Situasi perpolitikan dengan gejolak perang revolusi, maka Rencana Pelajaran 1947, baru diterapkan pada tahun 1950. Oleh karena itu Rencana Pelajaran 1947 sering juga disebut kurikulum 1950. Susunan Rencana Pelajaran 1947 sangat sederhana, hanya memuat dua hal pokok, yaitu daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, serta garis-garis besar pengajarannya.
Rencana Pelajaran 1947 lebih mengutamakan pendidikan watak, kesadaran bernegara, dan bermasyarakat, daripada pendidikan pikiran. Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian, dan pendidikan jasmani. Mata pelajaran untuk tingkat Sekolah Rakyat ada 16, khusus di Jawa, Sunda, dan Madura diberikan bahasa daerah. Daftar pelajarannya adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, Berhitung, Ilmu Alam, Ilmu Hayat, Ilmu Bumi, Sejarah, Menggambar, Menulis, Seni Suara, Pekerjaan Tangan, Pekerjaan Keputrian, Gerak Badan, Kebersihan dan Kesehatan, Didikan Budi Pekerti, dan Pendidikan Agama. Pada awalnya pelajaran agama diberikan mulai kelas IV, namun sejak 1951 agama juga diajarkan sejak kelas satu.
Garis-garis besar pengajaran pada saat itu menekankan pada cara guru mengajar dan cara murid mempelajari. Misalnya, pelajaran bahasa mengajarkan bagaimana cara bercakap-cakap, membaca, dan menulis. Ilmu Alam mengajarkan bagaimana proses kejadian sehari-hari, bagaimana mempergunakan berbagai perkakas sederhana (pompa, timbangan, manfaat bes berani), dan menyelidiki berbagai peristiwa sehari-hari, misalnya mengapa lokomotif diisi air dan kayu, mengapa nelayan melaut pada malam hari, dan bagaimana menyambung kabel listrik. Pada perkembangannya, rencana pelajaran lebih dirinci lagi setiap pelajarannya, yang dikenal dengan istilah Rencana Pelajaran Terurai 1952. “Silabus mata pelajarannya jelas sekali. Seorang guru mengajar satu mata pelajaran”. Pada masa itu juga dibentuk Kelas Masyarakat yaitu sekolah khusus bagi lulusan SR 6 tahun yang tidak melanjutkan ke SMP. Kelas masyarakat mengajarkan keterampilan, seperti pertanian, pertukangan, dan perikanan. Tujuannya agar anak tak mampu sekolah ke jenjang SMP, bisa langsung bekerja.

2. Kurikulum 1952
Setelah Rentjana Pelajaran 1947, pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan. Pada tahun 1952 ini diberi nama Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Di penghujung era Presiden Soekarno, muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964. Fokusnya pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Pancawardhana). Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.

3. Kurikulum 1964
Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana yang meliputi pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral. Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmani. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.

4. Kurikulum 1968
Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.

5. Kurikulum 1975
Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif. “Yang melatarbelakangi adalah pengaruh konsep di bidang manejemen, yaitu MBO (management by objective) yang terkenal saat itu. Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Zaman ini dikenal istilah “satuan pelajaran”, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi: petunjuk umum, tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Kurikulum 1975 banyak dikritik. Guru dibikin sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran.
Pada tahun ini pengajaran matematika modern resminya dimulai. Model pembelajaran matematika modern ini muncul karena adanya kemajuan teknologi. Di Amerika Serikat perasaan adanya kekurangan orang-orang yang mampu menangani senjata, rudal dan roket sangat sedikit, mendorong munculnya pembaharuan pembelajaran matematika.
W. Brownell mengemukakan bahwa belajar matematika harus merupakan belajar bermakna dan berpengertian. Teori Gestalt yang muncul sekitar tahun 1930, dimana Gestalt menengaskan bahwa latihan hafal adalah sangat penting dalam pengajaran namun diterapkan setelah tertanam pengertian pada siswa.
Dua hal tersebut di atas memperngaruhi perkembangan pembelajaran matematika di Indonesia. Berbagai kelemahan seolah nampak jelas, pembelajaran kurang menekankan pada pengertian, kurang adanya kontinuitas, kurang merangsang anak untuk ingin tahu, dan lain sebagainya. Ditambah lagi masyarakat dihadapkan pada kemajuan teknologi. Akhirnya Pemerintah merancang program pembelajaran yang dapat menutupi kelemanahn-kelemahan tersebut.
Muncullah kurikulum 1975 dimana matematika saat itu mempunyai karakteristik sebagai berikut.
1) Membuat topik-topik dan pendekatan baru. Topik-topik baru yang muncul adalah himpunan, statistik dan probabilitas, relasi, sistem numerasi kuno, penulisan lambang bilangan non desimal.
2) Pembelajaran lebih menekankan pembelajaran bermakna dan berpengertian dari pada hafalan dan ketrampilan berhitung.
3) Program matematika sekolah dasar dan sekolah menengah lebih kontinyu.
4) Pengenalan penekanan pembelajaran pada struktur.
5) Programnya dapat melayani kelompok anak-anak yang kemampuannya hetrogen.
6) Menggunakan bahasa yang lebih tepat.
7) Pusat pengajaran pada murid tidak pada guru.
8) Metode pembelajaran menggunakan meode menemukan, memecahkan masalah dan teknik diskusi.
9) Pengajaran matematika lebih hidup dan menarik.

6. Kurikulum 1984 (Kurikulum CBSA)
Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL).
Kurikulum 1984 ini berorientasi kepada tujuan instruksional. Didasari oleh pandangan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif. Oleh karena itu, sebelum memilih atau menentukan bahan ajar, yang pertama harus dirumuskan adalah tujuan apa yang harus dicapai siswa.
Pembelajaran matematika pada era 1980-an merupakan gerakan revolusi matematika. Revolusi ini diawali oleh kekhawatiran negara maju yang akan disusul oleh negara-negara terbelakang saat itu, seperti Jerman barat, Jepang, Korea, dan Taiwan. Pengajaran matematika ditandai oleh beberapa hal yaitu adanya kemajuan teknologi muthakir seperti kalkulator dan komputer.
Perkembangan matematika di luar negeri tersebut berpengaruh terhadap matematika dalam negeri. Di dalam negeri, tahun 1984 pemerintah melaunching kurikulum baru, yaitu kurikulum tahun 1984. Alasan dalam menerapkan kurikulum baru tersebut antara lain, adanya sarat materi, perbedaan kemajuan pendidikan antar daerah dari segi teknologi, adanya perbedaan kesenjangan antara program kurikulum di satu pihak dan pelaksana sekolah serta kebutuhan lapangan dipihak lain, belum sesuainya materi kurikulum dengan tarap kemampuan anak didik. Dan, CBSA (cara belajar siswa aktif) menjadi karakter yang begitu melekat erat dalam kurikulum tersebut. Dalam kurikulum ini siswa di sekolah dasar diberi materi aritmatika sosial, sementara untuk siswa sekolah menengah atas diberi materi baru seperti komputer. Hal lain yang menjadi perhatian dalam kurikulum tersebut.

Langkah-langkah agar pelaksanaan kurikulum berhasil adalah melakukan hal-hal sebagai berikut;
a. Guru supaya meningkatkan profesinalisme
b. Dalam buku paket harus dimasukkan kegiatan yang menggunakan kalkulator dan computer
c. Sinkronisasi dan kesinambungan pembelajaran dari sekolah dasar dan sekolah lanjutan
d. Pengevaluasian hasil pembelajaran
e. Prinsip CBSA di pelihara terus

7. Kurikulum 1994
Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. Dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak. Tujuan pengajaran menekankan pada pemahaman konsep dan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.
Tahun 90-an kegiatan olimpiade matematika internasional begitu marak. Sampai tahun 1977 saja sudah 19 kali diselenggarakan olimpiade matematika internasional. Saat itu Yugoslavia menjadi tuan rumah pelaksanaan olimpiade, dan yang berhasil mendulang medali adalah Amerika, Rusia, Inggris, Hongaria, dan Belanda.
Indonesia tidak ketinggalan dalam pentas olimpiade tersebut namun jarang mendulang medali. Keprihatinan tersebut diperparah dengan kondisi lulusan yang kurang siap dalam kancah kehidupan. Para lulusan kurang mampu dalam menyelesaikan problem-problem kehidupan dan lain sebagainya. Dengan dasar inilah pemerintah berusaha mengembangkan kurikulum baru yang mampu membekali siswa berkaitan dengan problem-solving kehidupan. Lahirlah kurikulum tahun 1994.
Dalam kurikulm tahun 1994, pembelajaran matematika mempunyai karakter yang khas, struktur materi sudah disesuaikan dengan psikologi perkembangan anak, materi keahlian seperti komputer semakin mendalam, model-model pembelajaran matematika kehidupan disajikan dalam berbagai pokok bahasan. Intinya pembelajaran matematika saat itu mengedepankan tekstual materi namun tidak melupakan hal-hal kontekstual yang berkaitan dengan materi. Soal cerita menjadi sajian menarik disetiap akhir pokok bahasan, hal ini diberikan dengan pertimbangan agar siswa mampu menyelesaikan permasalahan kehidupan yang dihadapi sehari-hari.

8. Kurikulum 2004 (KBK)
Kurikukum 2004 ini lebih dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Pendidikan berbasis kompetensi menitikberatkan pada pengembangan kemampuan untuk melakukan (kompetensi) tugas-tugas tertentu sesuai dengan standar performance yang telah ditetapkan. Competency Based Education is education geared toward preparing indivisuals to perform identified competencies (Scharg dalam Hamalik, 2000: 89). Hal ini mengandung arti bahwa pendidikan mengacu pada upaya penyiapan individu yang mampu melakukan perangkat kompetensi yang telah ditentukan. Implikasinya adalah perlu dikembangkan suatu kurikulum berbasis kompetensi sebagai pedoman pembelajaran.
Kurikulum Berbasis Kompetensi berorientasi pada:
1. Hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna.
2. Keberagaman yang dapat dimanifestasikan sesuai dengan kebutuhannya. Tujuan yang ingin dicapai menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.
Tahun 2004 pemerintah melaunching kurikulum baru dengan nama kurikulum berbasis kompetesi. Secara khusus model pembelajaran matematika dalam kurikulum tersebut mempunyai tujuan antara lain;
a. Melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsistensi dan inkonsistensi
b. Mengembangkan aktifitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba.
c. Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah
d. Mengembangkan kemapuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik, diagram, dalam menjelaskan gagasan.

9. Kurikulum 2006 (KTSP)
Kurikulum 2006 ini dikenal dengan sebutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Awal 2006 ujicoba KBK dihentikan, muncullah KTSP. Tinjauan dari segi isi dan proses pencapaian target kompetensi pelajaran oleh siswa hingga teknis evaluasi tidaklah banyak perbedaan dengan Kurikulum 2004. Perbedaan yang paling menonjol adalah guru lebih diberikan kebebasan untuk merencanakan pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi siswa serta kondisi sekolah berada. Hal ini disebabkan karangka dasar (KD), standar kompetensi lulusan (SKL), standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD) setiap mata pelajaran untuk setiap satuan pendidikan telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Jadi pengambangan perangkat pembelajaran, seperti silabus dan sistem penilaian merupakan kewenangan satuan pendidikan (sekolah) dibawah koordinasi dan supervisi pemerintah Kabupaten/Kota.

DAFTAR PUSTAKA

http://masbando.tripod.com/subandoweb/pembat.htm
Idi, Abdullah. 2011. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Mulyasa. 2010. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Murniati, Andi. 2010. Pengembangan Kurikulum. Pekanbaru: Al-Mujtahadah Press
Muslich, Masnur. 2007. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) Dasar Pemahaman dan Pengembangan. Jakarta: Bumi Aksara
Muslich, Masnur. 2007. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara
Oemar Hamalik. 2007. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
TIM Pengembangan MKDP. 2011. Kurikulum dan Pengembangan. Jakarta: Rajawali Press

Makalah Hambatan Penglihatan pada Anak

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anak dengan kebutuhan khusus perlu dikenal dan diidentifikasi dari kelompok anak pada umumnya, oleh karena mereka memerlukan pelayanan yang bersifat khusus. Pelayanan tersebut dapat berbentuk pertolongan medik, latihan-latihan therapeutic, maupun program pendidikan khusus, yang bertujuan untuk membantu mereka mengurangi keterbatasannya dalam hidup bermasyarakat.
Dalam rangka mengidentifiksi (menemukan) anak dengan kebutuhan khusus, diperlukan pengetahuan tentang berbagai jenis dan gradasi (tingkat) kelainan organis maupun fungsional anak melalui gejala-gejala yang dapat diamati sehari-hari.
Dalam PP Nomor 72 Tahun 1991 Bab XII Pasal 28 Ayat I dinyatakan bahwa : “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengatasi masalah yang disebabkan oleh kelainan yang disandang, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan “.
Dari pernyataan ini tampak jelas bahwa layanan bimbingan memegang peranan penting dalam mempersiapkan siswa menghadapi masa depannya. DI pihak lain, guru sebagai pengelola inti dalam proses belajar mengajar (PBM) mempunyai tugas untuk melaksanakan layanan bimbingan di sekolahnya, terlepas dari ada atau tidak ada petugas khusus yang disiapkan untuk itu. Peran guru sebagai pembimbing semakin diperkokoh posisinya selaku fasilitator dalam mencapai perkembangan siswa secara optimal.
Hal ini selaras dengan tugas pokok guru yang tercantum dalam PP Nomor: 84/P/1993 Bab II pasal 3 tentang Tugas – tugas Pokok Guru yaitu:
Menyusun program pengajaran, menyajikan program pengajaran, evaluasi belajar, analisis hasil evaluasi belajar, serta menyusun program perbaikan dan pengayaan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya; atau menyusun program bimbingan, melaksanakan program bimbingan, evaluasi pelaksanaan bimbingan, analisis hasil pelaksanaan bimbingan, dan tindak lanjut dalam program bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya.
Dari uraian di atas, jelas bahwa guru di sekolah dasar khususnya, di samping merupakan petugas inti pengelola peristiwa belajar mengajar dan pemelancar belajar siswa, juga memegang peranan kunci dan menjadi suatu keharusan bagi guru tersebut untuk bertanggung jawab atas pelaksanaan layanan bimbingan khususnya dalam proses pembelajarannya.
Fenomena di lapangan menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan guru di sekolah dasar, tidak dipersiapkan untuk menjadi seorang konselor terlebih konselor bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Dengan demikian, pengetahuan guru tentang Bimbingan dan konseling relatif sedikit. Demikian pula program yang khusus dirancang bagi anak berkebutuhan khusus di sekolah dasar belum tersedia, sementara siswa yang dihadapi guru sangat memerlukan layanan bimbingan secara khusus, sehingga setiap kebutuhan siswa dapat terpenuhi.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat diambil suatu rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Konsep dasar anak dengan hambatan penglihatan?
2. Apa saja Faktor penyebab pada anak dengan hambatan penglihatan?
3. Bagaimana Layanan bimbingan pada anak dengan hambatan penglihatan?
4. Bagaimana Assesmen yang cocok pada anak dengan hambatan penglihata?
5. Bagaimana Karakteristik dan Permasalahan Anak Tunanetra?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuannya adalah:
1. Untuk mengetahui Konsep dasar anak dengan hambatan penglihatan.
2. Untuk mengetahui Faktor penyebab pada anak dengan hambatan penglihatan.
3. Untuk mengetahui Layanan bimbingan pada anak dengan hambatan penglihatan.
4. Untuk mengetahui Assesmen yang cocok pada anak dengan hambatan penglihatan.
5. Untuk mengetahui Karakteristik dan Permasalahan Anak Tunanetra.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep dasar anak dengan hambatan penglihatan
Anak tunanetra diartikan sebagai anak yang cacat indera penglihatannya, dalam arti indera penglihatan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Penglihatan seseorang dikatakan betul-betul terganggu apabila ia mempunyai ketajaman 20/200, yaitu ketajaman yang dapat melihat suatu benda pada jarak 20 kaki yang umumnya dapat dilihat oleh orang yang memiliki ketajaman penglihatan normal pada jarak 200 kaki.

B. Faktor penyebab anak dengan hambatan penglihatan
1. Pre-natal
Faktor penyebab ketunanetraan pada masa pre-natal sangat erat hubungannya dengan masalah keturunan dan pertumbuhan seorang anak dalam kandungan, antara lain:
a. Keturunan
Ketunanetraan yang disebabkan oleh faktor keturunan terjadi dari hasil perkawinan bersaudara, sesama tunanetra atau mempunyai orang tua yang tunanetra. Ketunanetraan akibat faktor keturunan antara lain Retinitis Pigmentosa, penyakit pada retina yang umumnya merupakan keturunan. Penyakit ini sedikit demi sedikit menyebabkan mundur atau memburuknya retina. Gejala pertama biasanya sukar melihat di malam hari, diikuti dengan hilangnya penglihatan periferal, dan sedikit saja penglihatan pusat yang tertinggal.
b. Pertumbuhan seorang anak dalam kandungan
Ketunanetraan yang disebabkan karena proses pertumbuhan dalam kandungan dapat disebabkan oleh:
1) Gangguan waktu ibu hamil.
2) Penyakit menahun seperti TBC, sehingga merusak sel-sel darah tertentu selama pertumbuhan janin dalam kandungan.
3) Infeksi atau luka yang dialami oleh ibu hamil akibat terkena rubella atau cacar air, dapat menyebabkan kerusakan pada mata, telinga, jantung dan sistem susunan saraf pusat pada janin yang sedang berkembang.
4) Infeksi karena penyakit kotor, toxoplasmosis, trachoma dan tumor. Tumor dapat terjadi pada otak yang berhubungan dengan indera penglihatan atau pada bola mata itu sendiri.
5) Kurangnya vitamin tertentu, dapat menyebabkan gangguan pada mata sehingga hilangnya fungsi penglihatan.
2. Post-natal
Penyebab ketunanetraan yang terjadi pada masa post-natal dapat terjadi sejak atau setelah bayi lahir antara lain:
a. Kerusakan pada mata atau saraf mata pada waktu persalinan, akibat benturan alat-alat atau benda keras.
b. Pada waktu persalinan, ibu mengalami penyakit gonorrhoe, sehingga baksil gonorrhoe menular pada bayi, yang pada ahkirnya setelah bayi lahir mengalami sakit dan berakibat hilangnya daya penglihatan.
c. Mengalami penyakit mata yang menyebabkan ketunanetraan,
C. Layanan bimbingan pada anak dengan hambatan penglihatan
Layanan dasar bimbingan adalah membantu seluruh siswa dalam mengembangkan keterampilan dasar untuk kehidupan. Komponen ini merupakan landasan bagi program bimbingan perkembangan. Fungsi layanan dasar bimbingan ini lebih bersifat pengembangan, karena merupakan upaya menyiapkan pelaksanaan bimbingan secara sistematik bagi seluruh siswa, termasuk siswa dengan hambatan penglihatan seperti siswa tunanetra.
Pengajaran dalam layanan dasar bimbingan ini diawali sejak pengalaman pertama siswa dengan hambatan penglihatan masuk sekolah, dengan materi yang diselaraskan dengan usia dan tahapan perkembangan siswa tersebut. Bidang bimbingan yang bobot materinya lebih berkaitan dengan layanan dasar bimbingan adalah “bimbingan pribadi”. Bimbingan pribadi ini lebih terfokus pada upaya membantu peserta didik mengembangkan aspek-aspek kepribadian yang menyangkut pemahaman diri dan lingkungan, kemampuan memecahkan masalah, konsep diri, kehidupan emosi, identitas diri, dan bimbingan menjadi pribadi yang mandiri.
Belajar bergaul dan bekerjasama dengan kelompok sebaya merupakan salah satu tugas perkembangan yang harus dikuasai siswa tunanetra di sekolah umum. Tugas perkembangan belajar bergaul dan bekerjasama dalam kelompok sebaya meliputi : 1.Cara mengenalkan diri, 2.Menghargai teman, 3. Bekerjasama dengan teman, 4. Kepedulian terhadap teman, 5. Mematuhi aturan permainan, 6. Bersaing dengan sportif, 7. Setia kawan, 8. Memahami perbedaan dan persamaan dengan kawan, 9. Cara menjadi pendengar yang baik.

D. Assesmen yang cocok pada anak dengan hambatan penglihatan
Assesmen yang cocok dengan Program layanan dasar bimbingan yaitu 1) program dirancang sesuai dengan kebutuhan nyata siswa tunanetra dan kemampuan guru dalam membimbing 2) melibatkan semua tenaga pendidikan di sekolah dalam merencanakannya, seperti dengan kepala sekolah, pembimbing dan guru-guru 3) tujuan bimbingan diarahkan pada pencapaian tugas perkembangan siswa tunanetra khususnya dalam belajar bergaul dan bekerja sama dengan kelompok sebaya 4) pelaksanaan layanan diintegrasikan dengan mata pelajaran oleh guru bidang studi atau guru kelas dengan menyediakan fasilitas yang diperlukan untuk memudahkan siswa tunanetra dalam belajar 5) memberikan kemungkinkan pelayanan kepada semua siswa baik yang normal maupun tunanetra 6) melibatkan orang tua dalam melaksanakan bimbingannya.

E. Karakteristik dan Permasalahan Anak Tunanetra
Anak tunanetra adalah anak mengalami penyimpangan atau kelalinan indra penglihatan baik kelainan itu bersifat berat maupun ringan, sehingga memerlukan pelayanan khusus dalam pendidikannya untuk dapat mengembangkan potensinya seoptimal mungkin. Karakteristik Anak Tunanetra yaitu :
a. Fisik (Physical)
Keadaan fisik anak tunanetra tidak berbeda dengan anak sebaya lainnya. Perbedaan nyata diantara mereka hanya terdapat pada organ penglihatannya. Gejala tunanetra yang dapat diamati dari segi fisik diantaranya :
a. Mata juling
b. Sering berkedip
c. Menyipitkan mata
d. (kelopak) mata merah
e. Mata infeksi
f. Gerakan mata tak beraturan dan cepat
g. Mata selalu berair (mengeluarkan air mata)
h. Pembengkakan pada kulit tempat tumbuh bulu mata.
Dalam konteks pendidikan seorang anak dikatakan tunanetra jika dikatakan memiliki karakteristik yang khas, diantaranya sebagai berikut:
a. Anak tunanetra tidak mengharapkan simpati oranglain tetapi diharapkan sebagaimana orang lain dan memperoleh kesempatan untuk mengembangkan diri agar dapat mandiri di kemudian hari.
b. Dia tidak mampu mengamati bagaimana orang lain melakukan sesuatu.
c. Pada umumnya memiliki kepribadian yang relative berbeda dengan anak awas, misalnya: merasa rendah diri, hidupnya tidak terarah dan tidak bermakna, mudah mengalami frustasi dsb.
d. Pada umumnya memiliki perbedaan yang cukup tajam dalam menanggapi dan mereaksi lingkungan.
e. Pada umumnya memiliki ketergantungan yang berlebihan kepada oranglain.
f. Karena keterbatasannya dalam mengahadapi rangsangan visual dia sering berprasangka atau curiga kepada orang lain.
g. Fungsi kognisinya kurang dapat berkembang sesuai dengan semestinya karena informasi yang dapat diterima terbatas.
h. Pada umumnya memiliki perasaan mudah tersinggung karena disamping terbatasnya menerima rangsangan visual juga peranan indranya kurang baik.
i. Pada umumnya memiliki kondisi fisik yang kuranga seimbang sehingga dalam geraknya kurang leluasa.
j. Kemampuan orientasi ruang dan mobilitas sangat terbatas.
k. Terdapat perbedaan yang cukup besar dalam motivasi untuk sukses dengan anak normal.
Dari karakteristik yang dimilikinya maka muncullah beberapa jenis masalah yang dihadapi individu terutama yang dihadapi oleh murid-murid sekolah. Masalah tersebut sekurang-kurangnya dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Masalah pengajaran
Misalnya kesulitan dalam manangakap pelajaran serba verbalistik, mengunakan buku-buku, cara belajar baik sendiri maupun berkelompok, kesulitan dalam memilih metode belajar mengajar yang tepat, kesulitan dalam hal menulis dan membaca, keterbatasan perabaan-pendengaran dan ingatan serta sarana yang diperlukan dalam proses KBM yang terbatas.
b. Masalah pendidikan
Masalah yang dihadapi awal masuk sekolah yaitu: menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, guru-guru dan staff sekolah, teman-teman, mata pelajaran baru, tata tertib dsb.
Dalam proses pendidikan sering dijumpai masalah diantaranya: mencari teman belajar yang cocok, memilih kegiatan ekstrakulikuler yang sesuai dengan bakat, mendapatkan pembaca yang cocok, mendapat pembimbing yang cocok, dsb.
Pada akhir pendidikan masalah yang sering dihadapi adalah memilih suatu studi lanjutan, memilih latihan-latihan kerja tertentu, merencanakan latihan-latihan keterampilan atau jenis pekerjaan tertentu setelah menyelesaikan pendidikan dsb.
c. Masalah orientasi dan mobilitas serta kebiasaan diri
Masalah yang dimaksud adalah masalah yang ada kaitannya dengan kesulitan penguasaan ruang dan kemampuapn gerak serta kebiasaan-kebiasaan hidup yang kurang menguntungkan. Misalnya kesulitan orientasi lingkungan yang baru, sikap berjalan yang kurang seimbang dsb.
d. Masalah gangguan emosi
Karena kemiskinan tanggapan yang sangat parah pada anak tunanetra dengan mudah muncul gangguan-gangguan emosi diantaranya: mudah curiga terhadap orang lain, mudah tersinggung, mudah marah dsb.
e. Masalah penyesuaian diri
Banyak anggapan dengan hilangnya atau kemampuan penglihatan individu maka hilanglah kemampuan seseorang sehingga hal ini dapat berpengaruh terhadap kepribadian anak tunanetra yang dapat berakibat berubahnya konsep dirinya, sehingga mereka merasa rendah diri terhadapa orang lain karena keterbatasannya itu. Dengan demikian dapat berpengaruh terhadap kehidupan dan dalam menyesuaikan diri kepada keadaan dan tuntutan sekolah, keluarga dan juga dirinya sendiri.
f. Masalah keterampilan dan pekerjaan
Mengingat keterbatasan yang dimiliki anak tunanetra, maka penting sekali adanya identifikasi terhadap jenis-jenis keterampilan dan pekerjaan yang ada di masyarakat, juga perlu diketahui kemampuan-kemampuan apa yang dimiliki indvidu yang cocok dengan keterampilan dan pekerjaan yang ada di masyarakat serta usaha-usaha pemilihan latihan-latihan untuk keterampilan dan pekerjaan tertentu.
g. Masalah ketergantungan diri
Masalah ini dapat saja muncul karena disamping ketidakmampuapnnya mengatasi masalahnya sendiri dapat juga kurangnya kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Sehingga dapat muncul masalah-masalah ketergantungan dirinya kepada orang lain dan selalu merasa tidak mampu mengatasi kesulitan dirinya sehingga cenderung untuk mengharapkan bantuan pertolongan kepada oranglain.
h. Masalah penggunaan waktu senggang
Anak tunanetra yang selalu dirundung kesunyian dan kesepian, bisa saja semua waktu luangnya dipakai untuk menghayal, menyendiri, tidur belaka yang tak ada hasilnya. Karena itu waktu luang hendaknya dapat diisi dengan kegiatan yang produktif apakah itu dengan mengarang, menganyam, latihan music, dsb. Semuanya itu sudah barang tentu disesuaikan dengan bakat dan minat mereka.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bimbingan adalah suatu proses, sebagai suatu proses, bimbingan merupakan kegiatan yang berkelanjutan, bimbingan adalah bantuan. Makna bantuan dalam bimbingan adalah mengembangkan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan siswa dan bantuan itu diberikan kepada individu yang sedang berkembang, tujuan bimbingan adalah perkembangan yang optimal.
Pada dasarnya semua anak berkebutuhan khusus memiliki karakteristik dan permasalahan yang realtif sama, yaitu mengalami hambatan perkembangan intelektualnya, kesulitan dalam sosialisasi, emosinya tidak stabil, dan hambatan dalam berkomunikasi dengan lingkungannya.
Bimbingan terhadap anak berkebutuhan khusus hendaknya dilaksanakan secara terus menerus dan sistemik agar mereka kelak akan sanggup berdiri sendiri menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakatnya.
Jenis layanan bimbingan yang hendaknya diberikan meliputi bimbingan perkembangan fisik, bimbingan dalam mengatasi kesulitan belajar, bimbingan dalam mengatasi kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan bimbingan vokasional atau bimbingan pekerjaan.
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA
Setiawan, Atang.,dkk. 2006. Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung:
UPI PRESS.
Direktorat Pendidikan Dasar. (1999) Dasar Luar Biasa dan Sekolah Terpadu Tahun 1998/1999 Samapi Akhir Desember 1998. Jakarta

Setiawati&Ima Ni’mah. 2006. Bimbingan dan Konseling. Bandung: UPI PRESS.

http://balerancage.wordpress.com/2010/11/05/formulasi-layanan-bimbingan-dan-konseling-bagi-anak-berkebutuhan-khusus-di-sekolah-inklusi/
http://achmadblue.blogspot.com/2011/03/bimbingan-anak-berkebutuhan-khusus.html